2012

Malam tahun baru merupakan momen yang menarik bagi saya. Jujur, saya bukanlah seorang fans berat dari perayaan tahun baru. Anda tidak akan menemukan saya meniup terompet di alun-alun kota ataupun membunyikan klakson sambil berkendara di jalan raya. Tapi saya juga bukan seorang pesimis yang mengubur semua harapan untuk perbaikan tahun depan. Saya merayakan tahun baru dengan cara sendiri.

Setiap akhir tahun saya selalu pergi backpack ke salah satu daerah di Jawa. Tujuannya adalah untuk berkontemplasi. Saya sadar kapasitas otak dan kapabilitas tekad saya masih seumur toge yang baru berkecambah, namun rasa penasaran saya mengakar dan tumbuh menjadi buah pikiran. Buah pikiran inilah yang saya coba petik dalam perjalanan akhir tahun.


Mengapa harus memetiknya hanya di penghujung tahun saja ?

Sederhana, karena jika ingin menuai, waktu adalah segalanya. Setiap tahun banyak sekali yang telah terjadi di hidup saya. Dan tidak mungkin semuanya terwujudkan dalam tulisan. Ya, seperti yang saya bilang, tekad saya dalam menulis belum bulat.


Perjalanan yang saya lakukan hanyalah backpack dengan dana seadanya dengan destinasi setahunya. Sampai tahun 2009, saya masih sempat melakukan backpack ke Yogyakarta bersama para sahabat. Menjelang tahun baru, mereka pergi ke alun-alun malioboro untuk mencicipi riuhnya malam pergantian tahun di sana. Sedangkan saya duduk melamun di dalam kamar. Lagi, saya senang sekali menghabiskan waktu dengan sosok yang ada di dalam diri. Berdialog dengan ia yang jarang saya perhatikan, berdialog dengan Ia yang sering saya lalaikan.

Tidak pernah saya mempertanyakan causa prima atau perputaran roda nasib yang bagi saya (dan bagi semua orang) selalu menempatkan diri di bawah. Saya hanya mengevaluasi apa yang sebenarnya saya lewatkan bersama diri sendiri. Tenang, saya bukan seorang narsistik. Saya benci diri saya sendiri, kok.

Tahun 2010 bergulir terlalu cepat tanpa jejak yang membekas. Banyak sekali nikmat yang saya rasakan selama 2010 sampai saya lupa mempost refleksi akhir tahun saya. Saat itu saya sedang kerja (anggaplah kerja) di Gedung Merdeka, acara dinas.

Paginya saya malas sekali mengkritalisasikan refleksi akhir tahun saya di sini. Benar-benar malas. Alasannya ya sibuklah, capeklah, galaulah, yah banyak sekali rasionalisasi yang dijadikan pembenaran.

Sama, saat menulis ini saya sedang dalam situasi kerja. Pasti saat usai kerja, saya akan sangat malas menulis cerita ini. Jadi saya sempatkan sekarang.

Tidak ada satu kejadianpun yang saya sesali selama tahun 2011. Saya masih merasa besok adalah fajar pertama 2011 dan saat mata mengejap, esoknya adalah fajar pertama 2012. Saya tidak sempat backpack dan mengevaluasi dalam perjalanan yang jauh dari kampung halaman. Saya rindu berkereta, bertanya, tersesat, dan berteman baru. Saya ingin hari ini saya habiskan berkeliling kota Malang ataupun mampir di Yogya. Tapi perlahan saya kenal dengan diri saya sendiri, inti dari perjalanan saya bukanlah backpack akan tetapi perjalanan itu sendiri. Bukankah hidup sendiri adalah perjalanan.

Di tahun ini saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga: prestasi, akademik, magang, pertemanan baru, karir, beasiswa dan lainnya. Bukan hanya yang manis seperti itu, tapi juga yang benar-benar gahang. Saya belajar menerima kekalahan, pengkhianatan, kebohongan, dan juga kekecewaan. Benar-benar menerima, tanpa ada ekspektasi apapun. Sebelumnya saya selalu berontak jika menerima pengkhianatan dan kekecewaan. Mempertanyakan segala kesalahan diri yang menyebabkan pengkhianatan dan kekecewaan, mencoba memperbaikinya dengan paksa, berlarut dalam sedih dan akhirnya tenggelam dalam trauma masa lalu. Saya lelah dengan diri yang berusaha mengeksludasi apa yang saya miliki saat itu. Dewi Lestari menyebut konsep Budha yaitu annica yang berarti bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang kekal. Kalaupun pengkhianatan terjadi, sakit yang kita alami akan berbuah manis suatu saat.

Yang saya pelajari, waktu dan juga kualitas yang orang/dunia tunjukan pada kita bukanlah refleksi yang sebenarnya. Di tahun 2012 ini saya ingin lebih mengenal diri saya sendiri dan kamu. Izinkan saya masuk mempelajari relung pikiranmu dan menetap di sana. Mari sama-sama belajar memahami diri sendiri melalui orang lain. Saya dan kamu, suatu saat pasti bertemu. Jangan menyerah, kamu tidak pernah sendirian.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Comments

  1. disini di sebuah kota yang sangat jauh dari rumah ..
    di sebuah tempat yang seharusnya bisa membuat aku terlupa segala hingar bingar dan cerita tentang kamu ..

    bahkan di penghujung tahun dimana aku bersabda bahwa tak ada lagi ruang untuk waktu yang dinamakan kita .. untuk sesuatu perasaan yang tak terdefinisikan untuk kamu ..

    lantas aku berbisik pada batu gunung di kejauhan .. pada dinginya malam yang dihembus debu gurun.. " ini waktunya" .. " dia telah memutuskan untuk memungungungiku dan memutar arah" berlari kembali dalam kedalaman hatinya yang tak akan pernah tersentuh..

    tapi siapa yang aku coba untuk bohongi? hatiku ? aku ? kamu ? waktu yang katanya menyembuhkan segala . belum cukup menyelesaikan semua luka yang terlanjur terbuka .. lantas haruskan kulanjutkan kepura puraan mu yang selama ini kita amini sebagai kenyataan ..

    dan disini .. di tempat yang seharusnya segala sesuatu dimulai kembali dari awal.. bagiku agar bisa membuat mu tertinggal .. jauh dari hati .. jauh dari semua yang bisa kembali membuka semua pemikiran tentang harapan aku dan kamu ..

    bodohnya aku masih mencari.. sedikit saja jejak yang kamu tinggalkan .. pada garis waktu .. pada semua cerita sendu .. adakah tentang aku di akar liar itu .. adakah pula sebaris nama atau bahkan sekedar inisial untuk aku tertera disana.. bahkan bukan hatimu yang kuharapkan .. hanya sejejak waktu dan kenangan ..

    tak perlu aku bertanya pada kertas kertas di balik buku yang mungkin sudah menjadi abu.. bahwa semua cerita yang kau tuturkan tak pernah ada aku .. tak sama sekali sedikitpun aku disana ..

    dan maka terjadilah ..

    ReplyDelete
  2. PS : Avez-vous retiré mon contact?

    ReplyDelete

Post a comment