Bertemu Kakek dan Nenek

Solitude

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kesedihannya. Mulai dari yang sederhana seperti curhat sampai yang kompleks seperti  menjadi seorang alkoholik. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Hidup kadang terlalu pahit untuk ditelan dan kita butuh cekokan kuat dari luar hingga bisa menelannya. Dorongan yang kuat hingga kita melewatinya. Tapi terkadang cara kita merespon kesedihan tidak menjadi  balabantuan untuk mengatasinya atau menelannya. Tanpa kita sadari, kesedihan itu malah tersungkur lebih lama di tenggorokan kita karena kita tidak bisa menelannya bulat-bulat sehingga kita terus menerus berdeham keras dan akhirnya muntah kemudian kita dipaksa lagi menelan kesedihan itu namun tersungkur lagi di tenggorokan, muntah lagi, dan begitu seterusnya. Beberapa contohnya adalah teman saya, seorang pria yang terbiasa hidup sehat berubah menjadi seorang alkoholik saat pacarnya meninggal. Sepupu saya yang kehidupannya berprestasi dan dibangga-banggakan berubah menjadi chaos saat teman satu-satunya meninggal. Dan ternyata butuh bertahun-tahun untuk mereka bisa sadar bahwa apa yang mereka lakukan ternyata tidak sedikitpun mengangkat mereka dari kesedihan itu.

Saya sendiri tidak suka merokok namun ketika saya sedang sedih, saya harus melakukan sesuatu yang buruk untuk menelan kepahitan ini. Sesuatu yang benar-benar konkrit harus menegasi absurditas hidup ini. Abert Camus pernah berkata bahwa absurditas hidup menjadi tolok ukur apakah hidup ini patut untuk dijalani atau tidak. Seringkali kesedihan membawa kita ke dalam perbuatan yang sebenarnya bukan alamiah kita. Salah seorang yang kemudian paham makna ini adalah Kurt Cobain, meski saya yakin ia tidak mengenal Albert Camus tapi Kurt percaya bahwa eksistensinya di dunia tidak akan menambah hidup menjadi lebih indah untuk dirinya. Saya tidak menyarankan bahwa bunuh diri merupakan salah satu jalan terbaik untuk mengakhiri kesedihan. Pikiran bahwa dunia ini tidak layak untuk dijalani  tidak pernah terbesit di benak saya. Namun saya, sama seperti kamu, pernah mengalami kesedihan yang begitu pekat.

And to be honest, smoking is not my thing. Saya pernah mengisap tiga bungkus rokok dalam satu hari. Keesokan harinya saya sadar bahwa saya tidak bisa merokok untuk menghilangkan kesedihan saya. Bukan karena paru-paru saya yang terbiasa jogging tiga kali seminggu tiba-tiba shocked karena diforsir menelan nikotin tapi lebih karena kesedihan itu tidak berkurang ketika saya merokok. Apalagi menghilang. Lantas saya coba untuk melakukan hal yang lebih ekstrem (menurut saya) dan hasilnya serupa. Kesedihan itu tetap di pikiran saya (baca:hati). Dan menegasi kesedihan itu malah menegaskan keberadaanya yang begitu menyakitkan. Bukannya pergi, kesedihan itu malah tidak beranjak sama sekali.

Saya bukanlah seorang yang tau bagaimana cara berdoa yang baik dan benar. Saya hanya berusaha menjadi lebih jujur kepada-Nya dengan berdoa. Saya tidak setuju dengan everything happened for a reason tapi saya tidak mau mendiskusikan 'everything' atau 'reason'-nya. Saya percaya Tuhan memberikan jalan yang terbaik namun diskusi mengenai esensinya itu tidak akan mengurangi masalahnya. Voltaire dalam novelnya Candide menerangkan secara implisit bahwa hidup manusia berada di luar jangkauan manusia sendiri, demikian masalah kebaikan dan keburukan yang tidak ada gunanya sehingga menurut Voltaire dengan berbuat maka manusia akan bisa mengurangi sedikit kesedihan dan beban yang dipikulnya.Ya saya menerjemahkan amanat Voltaire ke dalam, "kalo lu sedih, ya ngblog aja. Bukan karena lu pengen didenger tapi karena lu pengen ngblog aja."

Melupakan kesedihan seperti yang teman saya lakukan dengan menjadi seorang alkoholik bukan jalan keluar yang tepat. Karena hal itu hanya akan membantunya melupakan kesedihannya yang sewaktu-waktu jika ingat kembali maka sakitnya hati yang tak tertahankan itu akan kambuh lagi. Yang perlu kita lakukan untuk mengatasi kesedihan adalah mengafirmasi keberadaanya sebagai bagian dari diri kita. Tidak perlu dilupakan. Seperti bersepeda yang kadang kita harus terjatuh sebagai proses untuk mengusai skill bersepeda. Akan menjadi lebih indah saat kita berhasil bersepeda dengan luka di sekujur tubuh daripada berhenti selamanya karena ketakutan. 

Mengafirmasi kesedihan di sini tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang rumit seperti yang dilakukan Julia Roberts dalam film Eat, Pray and Love yang jelas membutuhkan banyak waktu dan biaya yang tidak dimiliki semua orang di zaman superinstan dan sibuk ini. Perjalanan merupakan hal yang penting untuk menemukan kembali siapa sebenarnya diri kita namun tidak ada garansi bahwa semakin jauh kita pergi maka semakin kita akan mengenal diri kita sendiri. 

Hal yang lucu adalah ketika sesuatu yang kita tafsirkan dengan kebetulan mewarnai perjalanan kita dalam mengafirmasi kesedihan. Saya capel mengonsumsi makanan yang superpedas untuk meredam kesedihan saya. Selain lambung saya yang ikut tersakiti, lagi-lagi kesedihan itu tidak sertamerta begitu saja hilang. Ketika semua buntu yang saya ingat hanyalah nenek saya.  Tentu  saja Tuhan yang pertama yang selalu saya ingat namun bagaimanapun juga sebagai manusia yang hidup di tengah arus hiperealitas yang kian deras saya selalu butuh sosok yang dekat dengan keseharian saya untuk mengarungi hidup. Pacar? Teman? adakalanya kapasitas mereka malah menjadi sedikit bias dan berbicara dengan mereka (yang memiliki pandangan hidup berbeda) terkadang membuat kening semakin berkerut. Dan kebetulan, nenek adalah orang yang paling dekat dengan saya semasa hidup saya.

Saya suka curhat dengan (almarhu(mah)) nenek dan kakek saya. Selesai sholat, saya selalu memandangi foto-foto nenek. Betapa banyak kenangan yang saya ingat tentang nenek saya. Keesokan harinya saya mengunjungi makam mereka. Nenek saya dimakamkan di Panjalu, Ciamis sedangkan Kakek saya di Taman Makam Pahlawan. Sosok kakek hanya saya kenal lewat cerita orang tua dan nenek. Namun ada keinginan yang kuat mendorong saya untuk mengenalnya lebih dalam. Sekadar berkunjung pada peninggalan yang bisa saya lihat dan juga sentuh juga sudah lebih dari cukup. 

Saya berangkat ke Taman Makam Pahlawan untuk mengunjungi makam kakek sendirian. Setelah mendoakannya, saya kemudian curhat mengenai keseharian saya, masalah-masalah saya, dan bagaimana saya kangen sama beliau. Tidak, saya tentu saja tidak menginginkan respon semacam tiba-tiba kuburannya terbelah kemudian kakek saya muncul dalam bentuk tulang belulang atau lantas saya mendapat nomor undian togel. Saya hanya ingin berdialog, bermonolog. Bahwa saya tidak melupakannya kakek dan nenek. Saya bercerita mengenai orangtua, saudara, keluarga, teman-teman, kuliah, prestasi saya, dan betapa orang-orang berubah dengan cepat.

his legacy
Entah mengapa dengan begitu, kesedihan saya tererosi sedikit demi sedikit seiring bulir air mata yang berjatuhan. Betapa saya bodoh dan cengeng padahal lingkungan patriarkal di masyarakat kita menuntut laki-laki tanpa air mata. Tapi ya masa bodoh, yang penting saya sudah ga sedih lagi. Setelah bercurhat di tengah teriknya sinar  matahari di Taman Makam Pahlawan, kepala saya pening dan akhirnya  memutuskan untuk pulang.

Tidak jauh dari makam kakek, saya baru menyadari ada tugu:


Estafet Perjuangan

Saya berdiri dan memandang tugu tersebut. Dan butuh waktu satu menit bagi saya untuk merenung maksud tugu itu. Saya malu kepada mereka, para pahlawan yang dulu tidak punya waktu untuk bergalau ria. atau bersedih ria dan berusaha mengatasinya dengan merokok atau minum alkohol. Dibandingkan dengan perjuangan mereka, masalah saya benar-benar sepele. Memikirkannya saja sudah membuat saya merinding. Dan perlahan semangat menyeruak. 

I wont give up no matter how hard life is.

Comments

  1. Hi bro, akhir" ini isi postingannya menggambarkan kamu lg melow... what happen? tetap semangat ya... semua orang pasti punya masalah dan masa lalu, tapi tergantung kita menyikapinya. mau diam di tempat? atau mau move on? karena kehidupan berjalan terus...

    ReplyDelete
  2. Ton style d'ecriture est genial. Ca m'inspire beaucoup. Je suis fiere de toi

    -abdaly-

    ReplyDelete
  3. @farrel:
    Well i believe life is so full of ups and downs and i am just at another side you mentioned mellow. Without trying to repress the needs to be sad, i just posted it here. But sure, i am going to move on but sometimes if we want to take a leap, we need to step back. Thanks for coming btw :)

    ReplyDelete
  4. @abdaly : merci beaucoup, je vous apprecie

    ReplyDelete

Post a comment