Elegi Penyendiri

Elegi Seorang Penyendiri


solitude


Siang dan malam silih berganti. Kekasih datang dan pergi. Sahabat enggan lagi berbagi. Keluarga tidak peduli lagi. Hidup mengatur itu semua, mencoba mensinkronisasikan segala bentuk anakronisme dengan terpaan perasaan sendiri. Tanpa daya, aku hanya mengangguk sesuai irama.

Einstein berkata bahwa waktu diciptakan agar semuanya tidak terjadi sekaligus. Waktu yang berjalan linier dengan satu pilihan yang berujung konsekuensi logis yang cenderung tidak logis. Logis adalah saat ku pikir eksekusi rencana travelling berjalan dengan baik tanpa adanya rencana dadakan. Cenderung tidak logis adalah saat rencana itu harus batal karena cucuran air mata sahabat yang sedang patah hati. Logis adalah waktu berjalan konsisten saat aku bekerja. Cenderung tidak logis adalah waktu menjadi lumer saat aku membaca. Logis adalah ketika aku menolakmu karena ragu. Cenderung tidak logis adalah aku menerimamu meskipun ragu. Kini aku yakin, jikalau semesta pararel itu ada, aku adalah seorang lelaki sombong yang dingin dan tak kenal perasaan. Dengan kekuatan telekinetik dan telepati tentunya. Aku tentunya berkeberatan jika kau mengulang ucapan Descartes, "Akal sehat adalah komoditas yang distribusinya paling merata di dunia sebab setiap orang yakin sudah mendapatkan pasokan yang cukup." Kau tahu betul jika logikaku tajam setajam perkataanku namun kau lebih paham betul mengapa keduanya selalu terpendam dalam bilur-bilur kesedihanku. Aku mungkin buta tapi bukan berarti aku tidak tahu. Dalam cinta, aku tak mengenal logika.

Aku tenggelam dalam simfoni kerentanan waktu. Waktu yang terus bergulir membuatku sesak. Tak bisa ku pinta berhenti. Tak kuasa ku coba kembali. Tak bisa ku lompati. Waktu yang terus menggerogoti kesengsaraan umat manusia termasuk aku di dalamnya. Voltaire sempat berkata dalam Les Delices bahwa obat kesengsaraan dan penghibur lara adalah bekerja, bertindak. Aku setuju dengannya tapi satu hal yang harus Voltaire tahu bahwa kepingan kerja tidak bisa mengeliminasi kepingan perasaan yang bisa datang kapan saja mencekam di alam bawah sadarku. Bekerja setengah mati bukan garansi akan berhenti mencintaimu. 

Lantas waktu terus menghasilkan kenangan sebagai residu. Kenangan yang hinggap dan bersemayam dalam kenangan seseorang termasuk diriku. Aku memiliki kenangan muram yang sengaja kujadikan temaram di sudut kotak memoriku. Agar aku lupa bahwa ia tersimpan rapi di sana. Di sana juga aku memiliki kenangan bahagia yang sengaja terus bergelora melupakan duka. Orang bijak yang selalu berkata bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab. Deal. Sebagian waktu mencatat sejarah orang-orang besar. Tidak setiap orang mengenal sejarah orang lain namun tiap orang memiliki sejarah. Aku tidak peduli dengan sejarah orang-orang itu. Aku hanya peduli pada sejarahmu yang akhirnya mendefinisikan keberadaan sejarah kita.

Jika Voltaire merasukiku dengan pesimisme yang membangun dan menyuruhku untuk terus bekerja dan mabuk dalam ketidaksadaran akan derita ini, maka aku terbuai oleh perkataan Aristoteles bahwa puisi lebih filosofis dan lebih layak diperhatikan secara serius daripada sejarah. Kupandangi segenap matamu dan kusisipkan puisi indah Sapardi Djoko Damono tentang cinta. Kubelai halus rambutmu dan kurapal mantra Sutardji Calzoum Bachri. Aku berandai apakah bisa puisi itu menggantikan kita yang telah menjadi sejarah? begitukah Aristoteles? Tapi kau tidak mengenal puisi.

Aku dan kamu telah melihat dunia dengan beragam paradigma. Pengetahuan yang kita dapat baik dari penalaran maupun pengalaman telah memerangkap kita dalam kerangka ilmiah yang kita sendiripun tidak paham. Tanpa tahu bahwa Nietzsche menunjuk intuisi sebagai sumber intelektualitas tertinggi, salah satu sumber pengetahuan. Meski kau kerap bertanya bagaimana intuisi bekerja, kau tak pernah sadar bahwa cinta bekerja di bawah intuisi. Kau pun tak pernah sadar mengucap percaya cinta namun mempertanyakan intuisi. Kau ragu.

Aku adalah budak romantisisme yang percaya omongan Horace bahwa dunia ini komedi bagi mereka yang berpikir, tragedi bagi mereka yang berperasaan, dan jawaban tentang mengapa Demokritos tertawa dan Herakleitos menangis. Aku berpikir, berperasaan, dan juga menangis. Hidupku sudah jelas satu paket komplit komedi, tragedi, dan air mata. Tapi kau tidak peduli pada tragedi. Kau coba sipitkan matamu hanya pada komedi. Dan entah kau mahfum artinya airmata. Yang jelas, kau lupa bahwa aku adalah manusia yang bertanya. Itu berarti sebenarnya kau tidak pernah peduli apa yang ada di relung terdalam pikiranku. Kau cukup mengenal aku dalam romantisisme tanpa bertanya apa itu romantisisme. Tanpa berusaha berepistemologi. Kau hanya berkelit menggunakan ambivalensi yang ada pada dirimu. Kau hanya berusaha menutupi kenanaranmu dengan keengganan untuk menyelam lebih dalam. Di saat itulah kau berkicau tentang aksioma.

Tak perlu kau paparkan jauh-jauh tentang eksistensi ilmu dan moral apalagi tanggung jawab sosial. Meski Sokrates tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa, aku sedikit mengerti mengenai aksioma. Jika kau anggap aku mengalami post-coital tristesse, kau harusnya tahu aku yang paling paham mengenai aksioma yang bertengger di benakku selama kita bersama. Aku tahu apa yang aku inginkan. Jika saja kau tidak selalu membuatnya saru dan kelabu, kau pasti punya banyak waktu untuk memahamiku. Jika cinta memang kau anggap sebagai aksioma dan keterlibatanku di dalamnya hanya sebatas ilusi, aku menolak mentah-mentah dan menyesal telah mengenalmu. Di situlah kau berairmata dan menderas selaras argumentasiku yang kian memanas. Aku yang ternyata berperasaan ini, a surprise for you, memahami bagaimana air mata diproduksi. Kau juga nyinyir pura-pura tidak tahu mengapa airmata bisa luber. Aku tak mau menjelaskan sesuatu yang kau tahu. Air mata yang diprduksi oleh kelenjar Lakrimalis yang secara konstan memberikan air untuk membasahi permukaan mata yang kemudian masuk ke dalam saluran kecil di kelopak mata bagian ujung tengah yang pada akhirnya akan disalurkan keluar melalui hidung dan ujung mata bila airmata tersebut sudah kumpul berlebih. Kau paham bagaimana airmata diproduksi secara biologis. Tapi tak pernah kau tanyakan bagaimana airmata dirangsang oleh solar plexus, tempat bersarangnya perasaan kita, emosi. Kau tak pernah bertanya sejauh itu, tentang perasaan. 

Aku berhenti dan mengusap air matamu dan kau bertanya apa fungsi air mata sambil tertawa kecil. Pertanyaan retorismu berubah menjadi sebuah kalimat yang tidak asing di telingaku: airmata itu tidak ada gunanya, hanya simbol inferiortias, melankolis, dan yang membuat suasana menjadi lebih dramatis. Aku lupa bahwa kau tidak mau berbagi perasaan terdalammu. Meski itu yang aku tunggu, bagai seorang pengemis yang menunggu sebuah gerbang kerajaan terbuka atau seorang musafir yang menunggu hujan di gurun panas yang membakar kerongkongan, atau aku yang menunggu pintu hatimu, mengetuk dan menyapa. Tanpa ada jawaban dan sahut balasan. Tapi biar aku yang naif ini mengingatkan kau bahwa semua yang ada di dunia ini pasti diciptakan berguna. Termasuk aku. Termasuk airmata. Bukankah airmata mengandung lisozom yang dapat membunuh bakteri-bakteri? bahwa airmata itu ternyata proses detoksifikasi yang selalu kita sempitkan dalam artian menangis? bukankah airmata karena menangis itu ternyata mengandung 24% protein albumin untuk meregulasi sistem metabolisme tubuh? bukankah airmata ini mengeluarkan endorphin leucine-enkaphalin dan prolactic sebagai hormon stres dalam tubuh? Aku hanya berkata itu dalam hati. Yang keluar hanyalah sepotong kalimat, "Karena kita manusia, kita berperasaan. Manusia menangis dan itu wajar."

Lantas kita sama-sama diam, melupakan perbedaan. Aku luluh dalam lelehan airmatamu. Aku sendiri tidak pernah berhenti menangis saat menyadari bahwa apa yang telah kita torehkan bersama sebagian adalah manipulasi perasaanmu atau dan dengan bantuan perasaanku. Aku terjebak dalam kenaifan dalam mencintaimu, probabilitas yang ada saat mencintai seorang kamu. Aku berpegang teguh pada prinsip Diderot bahwa langkah awal menuju filsafat adalah keengganan untuk percaya begitu saja. Aku manut pada Fichte yang berseru, "Aku makhluk hidup yang hidup." Namun saat bersamamu, itu semua runtuh. Kau berikan kontrak sosial berupa komitmen yang bernama cinta dan ku tukar semuanya demi itu semata. Harusnya aku legalkan dalam hitam di atas putih. Karena pada awalnya ku kira itu sepadan. Kau melanggar kontrak itu.

Aku senang dan takjub kepada Arthur Schopenhauer dengan etika belas kasihnya: Karena kita satu, kita memiliki kemampuan untuk menyamakan diri dengan orang lain, kemampuan untuk menghayati kesatuan dengan yang lain, kemampuan untuk berbagi suka dan duka. Kemampuan yang hanya dimiliki manusia, menurutku. Schopenhauer juga berkata bahwa selama kita tunduk pada hawa nafsu, dengan segala hasrat dan kecemasannya yang tidak ada habisnya...tak akan pernahlah kita bahagia dan tentram. Aku sangat setuju dengan perkataanya. Menggenapi seseorang dengan cinta plantonis adalah sesuatu yang benar-benar sakral melepaskan diri dari coitus, sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh hewan.

Tapi aku kalah dan salah. Kau bukanlah eksludasi. Kau juga seperti mereka yang rentan terkena virus mendua. Bereplikasi memenuhi tubuhku, meninggalkanku lunglai tanpa penawar. Lantas kau hinggap pada orang lain. Aku bukan satu-satunya. Aku hanyalah yang lain. Kau tidak menyahut dan membalas aku yang mengetuk pintu hatimu karena di dalamnya sudah ada orang lain. Namun kau memilih diam agar aku berasumsi bahwa kau tidak ada di sana, bahwa mungkin ini bukan saat yang tepat sehingga aku harus terus kembali untuk mencoba. Dan benar, aku terus kembali dan mencoba tanpa tahu sebenarnya kau tidak akan pernah membuka pintu itu. Kau keji. Membiarkanku menunggu dalam kesia-siaan.

Kau memanipulasi semuanya dengan perkataan-perkataan aksiomatis dan membungkamku dengan kesederhanaan dalam mencinta. Aku kehilangan kompleksitas dalam diriku di mana aku sangat nyaman berada di dalamnya. Aku terjerembab dalam ecological fallacy. Aku termenung dan bingung. Entah konsep apa lagi yang harus kuuraikan untuk mengertimu. Entah berapa lama lagi perasaan ini harus kukorbankan untuk mencintaimu tanpa pamrih dan tanpa balas. 

Kau hanya melihatku sebagai sosok kekasih yang banal dan dangkal. Dengan segala romansamu, aku menjadi bodoh dan percaya bahwa cintamu padaku adalah satu-satunya tongkat aku bertumpu. Dengan tololnya aku menganggap kau adalah satu-satunya semesta miliku. Tak satu setanpun tahu bahkan Faustpun menyengir jika tahu kisahku. Aku mendambakan Abelard dan Helloise, Laila dan Majnun, Romeo dan Juliet, sebuah percintaan yang mendalam. Aku sekarang linglung. Entah aku harus menutup mata lantas lanjut menggenggam tanganmu atau kutinggalkan dirimu dengan kedangkalan perasaanmu yang tidak mengerti artinya aku yang mencinta. Jika seorang ilmuwan harus berbicara jujur mengenai kebenaran, maka ia akan tamat jika harus berbicara jujur mengenai cinta.

Entah kapan, aku tidak yakin. Suatu saat aku bisa menyadari arti semua kejadian ini. Dikhianati olehmu setelah mencintai sepenuh hati adalah kesalahanku. Mengkhianatiku setengah hati adalah kesalahanmu yang terbesar. 

Comments

  1. saya masih nunggu ada sedikit saya di garis waktu kamu ..

    ReplyDelete

Post a comment