The Wedding

The Wedding
till mouth do us part


Pernikahan adalah sesuatu yang sakral menurut kebanyakan orang termasuk saya. Untuk yang satu ini, kejujuran dan komitmen seumur hidup harus menjadi dasar untuk memulai kehidupan bersama. Dua menjadi Satu. Pernikahan selalu memiliki daya tarik sendiri. Entah akadnya, resepsinya, atmosfirnya, atau para tamu dan pengisi acaranya. Tidak terkecuali pernikahan yang baru saja saya hadiri. 

Kemarin sepupu saya menikah dan karena sepupu ini dekat dengan keluarga maka orang tua saya tak bisa menghindari menjadi panitia pernikahannya. Pernikahannya cukup megah karena diadakan di gedung yang cukup bergengsi. Saya dan keluarga hadir sejak pagi dari dimulainya akad nikah, sampai acara selesai yaitu pukul tiga sore. Bagi saya pernikahan ini memberikan persepktif lain. Saya bertemu keluarga besar saya dari pihak mama ataupun papa. Teman-teman mama dan papa yang ternyata juga temannya ua (kakak mama yang anaknya melangsungkan pernikahan). Perspektif yang saya dapatkan adalah saya menemukan sebuah kacamata dalam mengamati orang-orang di sebuah pernikahan, pernikahan sepupu saya ini. Mungkin karena orang tua saya sibuk menjadi panitia, adik-adik saya menjadi pagar bagus jaga pintu tamu di depan gedung, kakak saya terus berduaan dengan istrinya, saya jadi merasa sendiri. Memang bukan secara literal namun selama ini jika saya pergi ke kondangan, pasti saya tidak benar-benar sendiri. Entah itu bersama teman, keluarga, orang tua, atau bahkan pacar. Jadi kali ini, foodstall dimsum-chicken katsu-batagor-mie kocok-empal genthong-dan-cingcau tidak bisa meredam perspektif saya ini. Saya comot banyak makanan, pergi ke bagian belakang ruangan dan mulai mengamati orang-orang. Ada beberapa katagori orang yang saya temui di sebuah pernikahan dan bisa jadi kamu termasuk di dalamnya:

1. The Privy Bride/Groom
Pengantin perempuan dan laki-laki yang seringkali kita temui di pernikahan adalah mereka yang berbahagia karena telah menemukan pasangan hidupnya masing-masing. Namun tidak jarang kita menemui pengantin perempuan dan pria yang memiliki banyak rahasia penting yang mereka simpan dan enggan mereka bagi kepada masing-masing karena niscaya ketika rahasia itu lumer dan masuk ke kuping pasangannya, pernikahan tidak akan terjadi. Pasangan seperti itu pandai menyembunyikan perasaan mereka dengan senyuman saat kerabat mendekat atau kamera menjepret. Naumn kita bisa perhatikan saat mereka sujud sungkem kepada orang tua mereka. Mereka yang menganggap pernikahan ini sebagai sebagai sebuah unjuk sosial dan gengsi, air matannya membeku di kaki kedua orang tua mereka.

2. The Shareholders
Tidak bisa dipungkiri, satu pernikahan (masih) dibiaya oleh kedua orang tua/wali dari masing-masing pihak. Itu hal yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah ketika masing-masing penyangga dana malah memikirkan mudah-mudahan uang amplopnya nutup setengah biaya pernikahan ini saat pernikahan terjadi. Biasanya kekhawatiran semacam ini tersembunyi di sudut senyuman namun air mukanya dari kejauhan pasti terlihat berbeda. Mereka terlanjur mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar dan belum bisa ikhlas menjadikannya sebagai mediasi dari suatu proses yang sakral.

3. The Social Butterfly
Mereka yang hinggap dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya bisa disebut social butterfly. "Eh jeng, gimana kabarnya? Blahblahblahblah. Jeng, aku ke sana dulu ya.". "Eh, jeng Ani apa kabar? suami udah berapa sekarang? blahblahblahblahblah. Eh di sana ada jeng Susi, aku ke sana dulu ya." Kalimat semacam itu pasti keluar dari seorang social butterfly.


4. The Howling Wolves
Baju gw udah keren dong? kok orang-orang malah ngeliatin dia sih? bajunya kan norak? Duh, mana nih cewe-cewe cantik? pokoknya gw harus dapet buket bunganya! kayaknya dia masih single deh, serbu! plis dong Tuhan, temuin aku sama jodohku di pernikahan ini. Kalimat semacam itu bida kita dapat dari ekspresi muka, pandangan mata, dan gerakan tubuh mereka. Percaya deh, para serigala-serigala ini ingin sekali jadi pusat perhatian di sebuah acara apalagi acara pernikahan. Kadang mereka juga sering mempertontontan pasangan mereka atau anak mereka atau kehidupan mereka dengan berkata, "Eh iya, pacar aku sekarang udah kerja di Priport loh, gajinya 20 juta." Namun kadang juga ada beberapa di antara mereka yang terus menerus berharap menemukan seseorang yang cocok dengan kepribadian mereka dengan berkata dalam hati, "Aku udah saling pandang-pandangan sama dia, deketin jangan ya? jodoh bukan ya? yaa??"

5. The Ignorant
The Ignorant adalah keluarga, kerabat, teman, temannya teman atau siapapun itu yang tidak peduli pada jalannya acara. Tidak (mau) tahu siapa yang menikah dan mereka datang karena orang terdekat atau orang tua mereka memaksa mereka datang ke kondangan. Mereka selalu dekat dengan foodstall karena cuma itu satu-satunya yang bisa mereka nikmati sepenuh hati. Mereka juga cuma mengenakan baju yang pas-pasan dengan muka kadang kebingungan ingin segera pulang.

6. The Wedding Crashers
Tahu filmnya kan? yang dimaikan oleh Owen Wilson dan Vince Vaughn. Dan mereka benar-benar ada! Para Wedding Crashers ini adalah mereka yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pernikahan namun datang karena mereka ingin makan gratis, kenalan dengan perempuan (biasanya titel ini disandang kaum pria saja namun seiiring dengan modernitas kaum perempuan pun sudah ada yang menjadi pioneer dengan menjadi seorang wedding crusher), atau sekadar menghabiskan waktu. 


Itulah enam katagori yang menjadi pengamatan saya di pernikahan sebelumnya. Nah kamu termasuk yang mana?

Comments

  1. lol. kocak bacanya. tapi bener juga sih hasil observasi lo. kelompok pertama dan kedua gw ga mungkin karena gw belum nikah ataupun jadi penyandang dana pernikahan seseorang. kelompok ketiga, gw bukan tipikal ibu2 seperti itu!! *loh. kelompok keempat, juga bukan krn gw males ngomentarin penampilan orang ke temen2, palingan ngomong dalam hati sambil mengerenyit. kelompok kelima, sebagian besar diri gw ada di kelompok ini. krn gw kebanyakan dateng ke nikahan temen ortu gw, dimana gw ga kenal siapapun kecuali temen bokap yg dah kenal gw sejak kecil. jadi kebanyakan jadi eater butterfly. nemplok di gubuk makanan satu ke gubuk makanan yang lainnya. satu hal yang bukan gw banget di kelompok ini adalah masalah pakaian. gw selalu memperhatikan penampilan kalo pengen dateng ke suatu acara. kelompok yang terakhir, jujur belom pernah coba walaupun ada niat.. nah loh..
    karena sebagian besar diri gw adalah ignorant makanya gw agak males kalo dateng ke resepsi kalo ga ada "pasangan" atau "kelompok"..

    sekian -- msa

    ReplyDelete

Post a comment