Meraup Partikel!

Meraup Partikel!


the worth-waiting Partikel
                                                                                   Judul: Supernova 4 Episode Partikel
Pengarang: Dewi Lestari
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 493 Halaman
Genre: Fiksi
Harga: Sekitar Rp.60.000,00-an


Akhirnya penantian keberlanjutan Supernova selama delapan tahun telah luntur oleh Supernova 4: Partikel. Seperti biasa, karya Dewi Lestari memang karya yang ditunggu banyak orang. Saya yang kehabisan Partikel di hari lahirnya langsung badmood. Saya memang berharap bisa dapet buku ini saat hari pertama ia keluar karena bisa dapet merchandise-nya. Tapi karena ga dapet, ya mau hari kedua atau ketiga sama aja. Jadi keinginan untuk baca Partikel hilang sekejap mata (what a mood!). Namun, ada seseorang yang ternyata memberikan Partikel sebagai hadiah ulang tahun. Merci beaucoup a vous.  Pertama, saya memang senang Supernova. Kedua, saya senang dihadiahkan buku. 

Tidak mau langsung menelan Partikel dalam sekali lahap, saya mengunyahnya perlahan, membaca kata demi kata. Sayang jika penantian delapan tahun harus hilang oleh gejolak nafsu keingintahuan dalam delapan jam. Seperti seri buku Harry Potter yang selalu saya lahap sekali lihat. Partikel merupakan seri Supernova ke empat setelah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Supernova: Akar, dan Supernova: Petir, Partikel juga didaulat jadi seri Supernova paling tebal dibandingkan pendahulunya yaitu 493 halaman. Seminggu sebelum Partikel keluar, saya coba untuk baca ulang Supernova seri sebelumnya untuk me-refresh cerita. Sebelumnya supernova dijadwalkan trilogi namun perkembangan berikutnya, Dee mengumumkan bahwa supernova akan dibuat heksalogi. Hm.

newbie joins the gank
---

Partikel memunculkan Zarah sebagai tokoh utama, setelah Diva, Bodhi, dan Elektra pada seri Supernova sebelumnya. Zarah dibesarkan dengan metode yang tidak biasa oleh ayahnya sendiri, Firas. Di bawah ayahnya, Zarah tidak masuk sekolah seperti anak pada umumnya namun Zarah tetap tumbuh menjadi anak yang cerdas, malah lebih cerdas dibandingkan anak lainnya. Dee membawa saya kepada keluguan seorang anak yang sayang ayahnya. Ketika Firas hilang, Zarah tidak mau menyerah menemukannya, berharap padanya ataupun berhenti mempercayainya. Dee, seperti dalam seri Supernova sebelumnya, sangat apik memainkan tokoh-tokohnya. Karakter dari setiap tokoh seperti manifestasi Dee dalam melihat orang-orang. Hal ini telah menmbuat tokoh-tokohnya kuat berdiri sendiri tanpa memiliki karakter yang beririsan atau saling silang. Penokohan ini terlihat dengan jelas ketika Dee membawa Zarah ke London untuk bertemu Storm yang menjadi kekasih (temporer)-nya. Di sana juga, Zarah bertemu sahabat lamanya, Koso yang sudah terkenal. Saya kira plot akan berjalan seperti kebanyakan novel-novel chicklit lainnya yang berujung pada cinta segitiga. Antara Zarah, Storm, dan Koso. Namun Dee tegas mematikan hal monoton semacam itu dan mengubah plot dengan tegas, Zarah meninggalkan Koso dan Storm. Sebuah proses katarsis dari seorang Zarah, saya kira.

Saya merasakan twist bertebaran dari awal hingga akhir cerita. Saya tidak akan memuji keahlian Dee dalam membuat pembaca terharu dan tersenyum karena itu memang ciri khasnya sejak dulu. Ia juga tidak nyinyir dalam menjelaskan dunia jamur, pentingnya lingkungan, ataupun alien. Yang terakhir merupakan tema yang jarang disukai oleh pembaca namun semuanya ia ramu menjadi bagian cerita yang matang sehingga dengan mudah pembaca bisa mencernanya.

Latar waktu dan tempat yang diset Dee menunjukan kepiawaiannya dalam berimajinasi. Bukit Jambul di Bogor merupakan salah satu latar yang saya sukai. Selain itu Dee juga membawa saya ke London, Kalimantan, dan juga Afrika. Imajinasi latar itu terjaga oleh diksi dan rima yang luwes sepanjang cerita. Cerkas, sudah melekat erat dalam cara Dee menulis. Tidak heran Goenawan Muhammad menyebutnya begitu.

Berbeda dengan seri sebelumnya yang pasti dibuka oleh kepingan yang tidak terhubung secara langsung ke dalam inti cerita, Partikel langsung dibuka oleh plot awal (present) yang disusul oleh flashback tokoh Zarah tanpa adanya kepingan cerita sebelumnya. Pada Partikel, bagian itu disisipkan di akhir cerita di mana Bodhi dan Elektra akhirnya dipertemukan. Sesuatu yang saya tunggu-tunggu.

Jikalau saya harus menuliskan kekurangan Partikel, ialah dalam penokohannya. Karena sudah Dee banget, saya menemukan beberapa serpihan karakter Elektra ataupun Kugy dalam Perahu Kertas pada Zarah. Namun begitu, kepingannya tidak terlalu kentara. Selain itu saya tidak terlalu terkejut dengan pembentukan ceritanya mengingat (lagi-lagi) ya itu gaya menulis Dee yang saya temukan di Supernova sebelumnya. Saya ingat bagaimana Diva, Bodhi, dan Elektra memiliki karakter yang dinamis, berseberangan, dan berbeda. Namun Zarah, saya merasakan karakter yang lebih mainstream.  Suatu kelebihan atau kekurangan. Tapi yang jelas, itu tidak mengurangi keunikan karakter Zarah.

Hal tersebut akan menjadi saru jika kita membacanya sekilas tanpa membaca Supernova sebelumnya dalam waktu dekat. Dan terlepas Supernova 4: Partikel memang layak baca dan saya suka selayaknya seri Supernova sebelumnya. 

Comments

  1. Ah rupanya kita sama" penggemar berat karya" Dee neh... :)

    ReplyDelete

Post a comment