Peduli Bully


Bully: Id, Ego, dan Superego

Manusia, menurut Freud, memiliki trinitas dalam dirinya sendiri: id, ego, dan superego. Secara sederhana id merupakan aspek biologis dan merupakan sistem yang asli dalam kepribadian. Id merupakan realita psikis kita yang sebenarnya karena terputus dari dunia luar (dunia objek) tapi terhubung secara lekat dengan dunia batin manusia (dunia subjek). Freud menjelaskan bahwa id ini terdiri dari insting dan unsur-unsur biologis lainnya. Id juga yang pada dasarnya mendorong pergerakan ego dan superego. Pada id juga terletak self-defense mechanism yang alami. Id berfungsi sebagai eliminator atau peredam rasa tidak enak yang disebabkan oleh tegangan yang bertubi-tubi. Misalnya ketika kita kaget, kita secara refleks berteriak. Ketika udara agak kotor, kita secara alamiah bersin. Inilah cara yang dilakukan id agar kita terhindar dari ketidaknyamanan. Selain itu, ada pula proses primer. Contoh proses primer adalah seperti saat kita lapar, kita secara tidak sadar langsung membayangkan makanan untuk mengurangi rasa lapar. Contoh lain yang biasa diambil dari id adalah rasa lapar, haus, dan mengantuk.

Ego merupakan konektor antara dunia subjektif dengan dunia objek, antara dunia dalam diri dengan dunia luar. Ego sebenarnya berarti aku, untuk aku sendiri. Jadi saat orang bilang, “kamu egois banget sih!” Berarti orang itu sebenarnya memuji, “kamu itu ke-aku-an banget sih!”. Alasannya karena ego itu digunakan untuk adaptasi kepribadian kita dengan kepribadian sekitar kita baik itu ego orang lain maupun nilai-nilai kultural sekitar. Jadi saat kita mengikuti ego, sebenarnya kita mengikuti (sebagian) kata hati. Ego ini terdiri dari tiga: prasadar, sadar, dan tak sadar. Ego prasadar adalah ingatan. Contohnya kadang kala kita bisa mengingat seseorang sepanjang pekan hanya karena kita menyukainya atau kadang muka dosen yang galak selalu terbayang-bayang saat kita akan tidur. Itulah ingatan. Ego sadar dapat dicontohkan saat kita melakukan proses-proses intelektual, pemikiran spiritual, ataupun pencerapan lahiriah. Contohnya adalah saat kita belajar berlari, belajar makan, ego menginternalisasi proses yang kita lakukan ini karena kebutuhan jangka panjang. Misalnya saat kita dikejar anjing, kita (sudah) bisa berlari. Yang terakhir adalah ego tak sadar. Ego tak sadar berhubungan dnegan mekanisme pertahanan diri kepribadian kita. Kita tahu bahwa kepribadian adalah inti dari identitas kita dan tidak ada satupun manusia yang ingin kepribadiannya terluka. Kepribadian ini ragamnya sangat luas mulai dari harga diri hingga penilaian baik dan buruk. Nah, saat kepribadian kita terancam oleh disturban eksternal maka ego tak sadar bekerja melalui mekanisme pertahanan diri. Karena tugasnya adalah mempertahankan kepribadian diri kita sendiri dan menyesuaikan dengan dunia sekeliling, ego tak sadar tidak mengenal baik atau buruk. Ego ini tidak menginternalisasi nilai baik atau buruk menjadi bagian darinya. Ingat, ia hanya konektor, jembatan. Ia tidak tahu apa yang ia hubungkan atau jembatani. Sebenarnya ego memiliki fungsi yang mulia yaitu memecahkan pertentangan dengan kenyataan-kenyataan (dunia objek) dan juga mencari jalan keluar akan pertentangan yang terjadi karena ketidaksesuaian tersebut.

Ego tidak bisa dilepas dari pasangannya yaitu supergeo. Dalam superego ada proses internalisasi nilai-nilai sekitar. Kita mendapat pengetahuan mana yang baik dan mana yang buruk. Superego ini bertindak seperti polisi kepribadian. Ia melakukan larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari dunia luar melalui internalisasi tersebut. Superego tumbuh menjadi dasar hati nurani atau moral yang selalu bertentangan dengan ego kemudian diekspresikan melalui emosi-emosi. Superego juga biasanya disebut moralitas dan sopan santun. Contoh sederhana yang melibatkan ketiga saudara tersebut adalah seperti ini: Saya lapar (id). Saya ingin kraby patty. Tapi saya tidak punya uang sama sekali (pertentangan). Ah, coba minta mama. Mah, minta uang, sejuta buat beli kraby patty. Yah ternyata ga dikasih (pertentangan). Tapi saya lapar dan ingin sekali krabby patty. Aha, mama lagi keluar dan dompetnya ditinggal (kondisi). Ambil ajanya, sejuta doang kok (ego). Okay, ambil aja. Asik akhirnya bisa makan kraby patty. Eh tapi kok rasanya ga enak ya? Apa gara-gara ini uang hasil mencuri? Aduh gimana ya? Apa ngaku aja? Kasihan mama cari uang susah payah. Duh, nyesel deh (superego). Yaudah ntar bilang aja sama mama.

Itu contoh sederhana. Contoh lainnya adalah perasaan bersalah saat kita berbohong, menyakiti seseorang, atau selesai masturbasi. Catatan: Yang ngerasa ga bersalah berarti terlalu sering ngelakuinnya.




Ketiganya harus bersinergi agar kepribadian kita selamat dari lingkungan sekitat. Baik itu melalui adaptasi ataupun dengan eliminasi. Dalam kasus bullying yang marak dilakukan oleh senior terhadap junior, baik pelaku maupun korban sebenarnya memiliki peran dalam aktivitas yang dikutuk oleh banyak orang tua itu. Karena itu kita harus bisa melihat dari kedua pihak agar solusi yang efektif dan efisien bisa diterapkan. Jika melihat kerangka berpikir pelaku, mereka pasti berada di lingkungan pergaulan yang permisif, agresif,  dan juga abusif. Lingkungan ini menjadi pengaruh negatif bagi kepribadian pelaku. Karena pengaruh lingkungan pergaulan yang seperti itu terlalu dominan maka nilai-nilai yang diinternalisasi oleh pelaku menjadi berkurang. Superego yang bertindak seperti polisi moral mulai melemah. Hal ini bisa juga ditelisik dari pengaruh keluarga dan kerabat utamanya orang tua. Satu poin, ternyata ini bukan kesalahan pelaku semata. Ada andil orang tua juga di sini. Sebenarnya id yang dibutuhkan oleh kita selain makan dan minum adalah kasih sayang, rasa aman, dan pengakuan (coba googling Abraham Maslow, hierarchy of needs), terlebih anak yang dalam proses pembelajaran membutuhkan dukungan yang membangun. Saat lingkungan terdekat tidak bisa memberikan ketiga hal tersebut, pelaku akan mencoba mencari kekurangan psikologis yang didertianya. Hal ini berujung pada bergabungnya mereka dengan komunitas yang menerima mereka. 


Di sini ego mereka menonjol. Pelaku tidak menginternalisasi baik atau buruk, selama ia mendapatkan apa yang ia cari, itu menjadi lebih dari cukup. Belum lagi jika pelaku adalah mantan korban. Setidaknya ia pernah mengalami pembullyan juga. Nah gawatnya, hal ini bisa berujung pada dendam dan pelampiasan yang destruktif baik bagi kepribadian pelaku maupun korban. Pelaku yang merupakan mantan korban setelah menjadi senior merasa memegang kekuasaan dan bisa menikmati apa yang ia selama ini tidak bisa lakukan, menjadi pembully. Hal ini bisa menjadi siklikal. Siklus yang berulang tiada henti. Yang saya prihatinkan adalah ketika pendidikan kita yang katanya didasari pancasila tidak bisa menyoroti hal bullying ini. Guru hanya mengutamakan nilai material. Dapat seratus, kamu pintar. Begitu juga dengan pelajaran agama atau akhlak. Semuanya terlalu teoritis. Hapal 14 surat pendek, maka dapat 100. Tapi melihat teman sendiri diolok-olok (verbal abuse) , ia malah diam. Sebenarnya penghayatan dari nilai-nilai tersebut menjadi inti yang membuat kita (baca: siswa) humanis dan toleran. Supergo juga melemah di sini karena tidak ada nilai-nilai baik dan buruk yang nyata dan bisa diinternalisasi. Kemudian siswa yang tidak hebat dalam menghapal akan merasa jenuh dan jengah dengan hal-hal tersebut yang sifatnya definitif dan teoritis. Dengan begitu nilainya akan turun bahkan menjadi jelek. Saat itu terjadi, ia akan mendapat tekanan dari orang tua. Pokoknya mamah ga mau tau, nilai kamu harus di atas 80. Sedangkan orang tua sendiri tidak pernah mengikuti proses dan memahami belajar anak mereka. Mereka menginginkan hasil instan. Yah, Indonesia. Mengapa kebanyakan orang tua berpikir instan seperti itu? Karena saat mereka sekolah dulu, mereka juga mengalami hal yang sama. Mereka dipaksa juga untuk mendapatkan nilai yang bagus dengan sistem pendidikan yang mengutamakan nilai material bukan nilai moral. Alhasil mereka melimpahkan kekesalan (kegagalan) mereka pada anaknya. Niatnya sih baik, supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan layaknya mereka namun sayangnya hal ini hanya menimbulkan tekanan yang mendorong anak ke jurang depresi dan stres. Mengerikan. Hal yang lebih mengerikan saat siswa tersebut mengalami pembullyan dan tidak tahu harus kepada siapa mengadu atau bercerita kemudian ia menemukan rekognisi dan eksistensinya di komunitas yang salah. Sebut geng motor atau geng vandalis lainnya.

Sayangnya, orang tua korban bully tidak melihat dampak yang mereka akibatkan hanya dengan menuntut pelaku untuk dijebloskan ke penjara atau dikeluarkan dari sekolah. Hal ini mungkin saja baik dan efektif untuk korban namun bagi pelaku tidak akan efisien. Pelaku tidak akan mendapatkan efek jera. Di Jawa Barat sekarang tidak ada pusat rehabilitasi anak-anak. Hanya ada di Tangerang. Itupun sudah penuh (tahun 2011). Maka anak-anak yang harus dimasukan ke pusat rehabilitasi digabung dengan penjara bagi dewasa. Mereka disetarakan dengan orang yang membunuh atau mencuri. Saat keluar dari penjara seperti, saya yakin anak-anak itu tidak akan jera. Yang ada mereka akan mencari komunitas lama yang sudah jelas menerima mereka apa adanya. Hal itu tidak jarang disebabkan oleh orang tua yang tidak acuh  dan kecewa. Sedih ya

Kelakuan mereka setelah tertangkap basah pun hanya cengengesan, tertawa, berbohong, berdalih ataupun mesem-mesem saja. Itu juga karena pihak sekolah ataupun orang tua menginterogasi mereka dengan setumpuk tuduhan dan pernyataan yang menyudutkan. Kamu ngbully anak saya, kamu harus masuk penjara, kamu harus keluar dari sekolah ini! Padahal masa depan yang lebih suram akan dimulai saat mereka masuk penjara. Maka dari itu self-defense mechanism mereka menyeruak dan menyuruh mereka berbuat seperti itu. Salah satunya adalah rasionalisasi. Ia akan berusaha membenarkan perlakuannya dengan berkata, "dulu juga saya dibully makanya saya ikut-ikutan ngbully."

Jika melihat posisi korban bully, selain luka fisik ia juga akan mendapat luka psikologis berupa trauma. Ketidakpercayaan diri, merasa rendah diri, tidak ada semangat, dan merasa lemah akan menjadi papan besar yang bertuliskan, “hey, aku lemah. Kalau dibully ga akan melawan.” Sikap keterbukaan dari orang tua dan kerabat dekat harus diterapkan kepada anak-anak khususnya menjadi korban bully. Jika tidak dideteksi secara dini, trauma ini akan mengendap dan menjadi persoalan yang lebih masif. Baik itu menjadi krisis identitas ataupun timbulnya dendan dan akhirnya menjadi psikopat. Terlebih jika korban berhasil direkrut dan naik tahta menjadi pelaku.

Apa yang bisa didapat dari celoteh saya ini? Bully terjadi bukan karena satu individu saja tapi karena sistem yang di dalamnya ada kita terlibat. Kita juga bisa berperan untuk mengurangi bully ataupun membiarkannya terjadi, tidak acuh


Peningkatan superego pada siswa bisa dilakukan dnegan memberikan nutrisi moral seperti keterbukaan, kedekatan, dan pemberian kasih sayang yang menjadi sangat penting bagi pertumbuhan psikologis siswa, dari sekolah dasar sekolah hingga menengah atas. Dalam diri mereka (dan kita) berlaku fase idolasasi. Mereka membutuhkan figur. Bukan yang ada di sinetron ataupun berita kriminal, korupsi, atau politik yang isinya membuat telinga panas. Figur ini bisa didapat dari orang tua dan guru. Oleh karena itu orang tua dan guru harus melimpahi mereka dengan ketulusan dan kasih sayang.

Kasih sayang ini bisa diberikan oleh keluarga, teman, ataupun guru dalam bentuk yang sederhana seperti perhatian. Guru juga harus benar-benar menanamkan nilai kasih sayang dan toleransi sehingga tidak mengutamakan nilai material saja. Guru bisa mulai dengan meningkatkan kesabaran pada siswa yang perangainya berbeda. Mengajarkan bahwa kekerasaan tidak akan menyelesaikan masalah. (Kecuali dalam perang, itu pun diatur dalam hukum humaniter dan konvensi Jenewa). Untuk persoalan yang terjadi antara pelaku dan korban dan menyeret pihak keluarga dan sekolah, harus ada pihak ketiga yang bisa memberikan mediasi. Mediasi ini diharapkan bisa mengaktivasi kembali hubungan pertemanan mereka, dengan saling memaafkan. Memang dibutuhkan jiwa yang ksatrian dan hati yang lapang dari korban. Pelaku juga harus meminta maaf dengan setulus hati. Jika mereka bisa saling memaafkan maka mereka bisa berdamai dengan masa lalu dan apa yang akan terjadi nanti.

Ingat, ego bertindak karena id. Id inilah yang harus kita identifikasi. Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak-anak tersebut sehingga bertindak seperti itu. Bukan solusi temporer semata seperti masuk penjara, keluar dari sekolah, pengucilan, dan sebagainya. Kita identifikasi apa yang menjadi penyebab dia menjadi pelaku bully. Untuk tiap kasus, harus kita babat sampai akar supaya siklus yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak terus bereinkarnasi dalam berbagai wujud siswa.

Ini menjadi krusial karena menyangkut kepribadian siswa yang terstrukturisasi oleh lembaga atau institusi pendidikan yang artinya kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja secara kontinu. Jika terjadi secara masif maka mental generasi penerus bangsa akan semakin mengalami dekandensi. Generasi penerus yang agresif, brutal, dan abusif? Mungkin kelemahan kita yang harus diakui adalah kurangnya cinta yang bisa dibagi, termasuk juga kesabaran dalam menghadapi dan memahami perasaan orang lain, eh, maksudnya perasaan pelaku dan korban bully.


Comments

  1. Terdapat beberapa contoh dari tindakan mem-bully. Tapi, secara personal gue sendiri belum pernah mengalami pem-bully-an secara fisik. Gue rasa mem-bully adalah tindakan yang kurang menyenangkan dan seharusnya dapat dihindari.

    Orang-orang melakukan tindakan per-bully-an karena mereka ingin merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri - dengan cara melakukan tindakan kurang menyenangkan terhadap orang lain, di luar dari tindakan itu dilakukan secara sadar maupun tidak.

    Mem-bully memang secara tidak langsung membuat pem-bully merasa lebih nyaman, tapi dalam jangka waktu panjang, perbuatan ini dapat menjadi efek domino karena tindakan tersebut dapat menyebabkan pelaku tidak mengetahui apakah perbuatan yang dilakukannya membuatnya merasa lebih baik atau mungkin lebih buruk, sehingga akhirnya si pelaku mengulangi perbuatannya untuk mendapat jawaban.

    Sebagai tambahan, gue percaya bahwa permasalahan yang terjadi di lingkup kehidupan si pem-bully, secara tidak langsung dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan per-bully-an sebagai solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya.

    Tetapi, pem-bully-an tidak hanya terjadi secara disengaja. Bahkan perbuatan yang dilakukan secara tidak sengaja juga dapat menyebabkan perasaan tidak menyenangkan bagi orang lain.

    Sebagai contoh : Beberapa hari yang lalu gue mengalahkan high score pacar gue dalam game Fruit Slice di depan mukanya. Hal itu membuat dia marah, dan kemudian memanggil gue, 'Pem-bully'.

    Pandu

    ReplyDelete

Post a comment