Solitude #21

Elegi Tahun Baru

Apa yang sebenarnya berharga dari pergerakan waktu yang linier? 
yang menggerogoti jiwa dan melemahkan raga kita? Menimbun banyak kejadian dan memudarkan kenangan menjadi serpihan kerinduan.

Apa sebuah selebrasi?
Mungkin karena waktu telah memahat kita menjadi patung es yang cantik namun rapuh.

Apa sebuah  kontemplasi? 
Mungkin karena waktu telah memilin kita menjadi tulisan-tulisan intim yang hanya mampu dicerna jiwa sendiri.

Apa sebuah refleksi?
Mungkin karena waktu telah meninggalkan jelaga yang tercoreng di muka kita.

Apa sebuah tawa eforia atau isak air mata?
Mungkin karena waktu selalu oksimoron; ia melahirkan kenangan dengan jenaka dan mengaburkannya dalam lupa. 

Entah.


Kita terlahir sendiri, bergelut dengan diri sendiri, melihat cerminan diri pada orang lain, dan dikebumikan sendiri. Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Namun kita sempat merasa bahwa satu detik terasa lama dan kadang tidak berharga.

Waktu yang berkelebat dalam ketidaksadaran kita menggagas artinya satu eon dan satu tahun. Kesibukan, pencapaian, ekspektasi, dan emosi yang bercampur saru berkonspirasi dengan waktu terus menggerus dahaga kita akan waktu. Tidak heran jika abadi adalah satu mimpi terbesar bagi kita. Waktu menjadi eksistensi asing yang menyangkut dalam diri kita. Dengan diiringi waktu, satu malam kita merasa asing dengan diri kita sendiri. Malam lainnya kita merasa dekat dengan diri kita sendiri. Karena waktu juga menjadi eksistensi terkarib yang pernah ada. Berteman dan berperang dengan waktu, ada keterasingan sekaligus kedekatan yang tidak dibentangi jarak yang luas. Kita tidak sadar jaraknya tidaklah signifikan. Seperti dua sisi pada koin yang saling mengutuhkan. Mereka hanya dibentangi waktu yang terselip sederhana di antaranya. Sayang, kita terus mencari diri kita yang dekat dan diri kita yang utuh sampai kehilangan waktu yang sebenarnya ada di sini.

Seorang nenek pernah berkata, ada kalanya kita tersesat. Dalam pusaran waktu dan pusara waktu. Yang terakhir baru kita mengerti saat waktu memunculkan nisan-nisan yang tak bernama, melucut dimensi waktu dan ruang seseorang dari hidup kita. Yang pertama, kita terjebak di dalam waktu yang kita persepsikan sendiri. Karena waktu adalah linier, ia tidak bisa bertolak ke belakang ataupun ke depan sekehendak hati kita. Ia berjalan bersama kita.

Aku tidak perlu mesin waktu untuk meneroka masa lalu dan masa depan. Aku bisa bernostalgia dengan masa lalu melalui kenangan dan menerobos masa depan melalui harapan. Bukankah pikiran kita adalah mesin waktu yang terhebat yang pernah ada?

Kita tertarik pada Kant yang menyoroti waktu sebagai empirical reality dan transcendental ideality. Kita juga tertarik pada Einstein yang menggembungkan relativitas waktu. Tapi apa kita sering memegang dada dan merasakan waktu perlahan menggerus kita dalam himpitan kerusuhan? Hingga kita sesak kehabisan waktu? Kita sering menengok ke belakang dan memagut-magut remah yang tertinggal. Kita sering meloncat ke depan dan menghilangkan dentuman masa kini. Karena masa kini adalah hadiah, sebuah momen untuk dinikmati dan diresapi. Tak perlu terburu-buru. Savor the moment..


Lantas, apa waktu itu?

Kita mendefinisikannya sebagai kumpulan detik menjadi jam yang bergulir menjadi hari yang berjalan menjadi minggu yang bercumbu menjadi bulan dan beranak menjadi tahun. Kita mengenang kematian dan kelahiran setiap tahun. Membuang waktu dengan menunggu. Tapi bukankah kita selalu ingat tidak ada yang sia-sia, bahkan untuk menunggu. Jika menunggu tidaklah sia-sia, maka tak akan ada waktu yang terbuang. Itu jika kita tahu apa yang kita tunggu.






Kemudian matahari terbit dan terbenam, bulan mengintip dan menghilang. Kembang api menyala-nyala dan meliuk-liuk di malam yang kelam dan basah. Ada kalanya waktu yang tersebar di antara intuisi dan mata kita menjadi jembatan yang sangat ringkih untuk menelaah perjalanan- sejauh mana kita telah melangkah. Perjalanan untuk mencari tahu tentang apa sebenarnya kita.


Perjalanan untuk memaknai waktu.

Kita sudah serik dan ingin menjadi lebih baik.
Empat jam telah berlalu.
Tapi kita memilih tidak peduli dan larut dalam pusara waktu.



--Leeuwarden, 1 Januari 2014--
Terbesit saat di antara gerimis dini hari diiringi dentuman suara petasan ilegal yang bunyinya sepuluh kali lipat lebih kuat dibandingkan granat dan konspirasi suhu plus angin yang membuat rindu kasur, toilet, dan juga orang dan sahabat tersayang. Iya, kalian sepenting kasur dan toilet :)

Comments

  1. hmmm..
    Maksudnya seperti kasur dan toilet teh gmn dip ? hehe.

    ReplyDelete
  2. dari semuanya, kenapa itu yang harus ditanyakan ros? :(

    ReplyDelete
  3. aing suka yang bagian meunggu dip. aslinya, kadang ketika semua sudah sempurna, ada si waktu ini yang belum mengizinkan :)

    tapi ketika menunggu izin itu, kadang menjadi waktu-waktu yang bikin kangen. emang bedebah si waktu ini, bedebah yang indah :')

    ReplyDelete
  4. karena dr pertanyaan itu nanti akan menyusul pertanyaan-pertanyaan lain tentang konsep waktu yg berhubungan dengan fungsi hidup yang mungkin saja dapat di analogikan dengan seperti toilet atau kasur.

    Menyambung pertanyaan absurd tadi. Katakanlah waktu itu seperti toilet. Ketika diflash, semua memori yang ada di atas permukaan tertelan kebawahnya. Apakah ada kemungkinan mengembalikan memori-meomori tersebut seperti sediakala ??

    ReplyDelete
  5. Sebenernya memori itu tetep ada di dalam otak kita, di dalam jalur eksistensi kehidupan kita. Tapi waktu membuat kita merasa tidak spesial dan unik. Tanpa ada jejak yang kita buat sendiri, waktu akan melahap kita tanpa kita sadari. Ujungnya, kita lupa kalau waktu berlalu.

    mengembalikan memori seperti sediakala mungkin aja. Nulis blog kaya gini bisa jadi salah satu cara ros :)

    ReplyDelete

Post a comment