Keteter Desember




Seringkali waktu memang brengsek; membuat kita terlena di antara bunyi jarum jam yang berdetak di dinding kamar atau di pergelangan tangan. Atau, di sela-sela jam digital melingkar di pergelangan tangan mu atau terpampang di layar telepon genggammu. Berbeda dengan mu yang mungkin menyukai jam digital, aku lebih menyukai jam analog. Aku merasa lebih intim dengan waktu. Mungkin karena di saat sepi dan sendiri, aku bisa mendengar waktu yang berdetak konstan dan teratur, apapun yang terjadi di dalam hidup dan semesta ini. 

Seperti pagi ini. Telingaku sepertinya sengaja menangkap suara detak detik jam dinding  di kamar. Aku tertegun dan mencari tahu pukul berapa. Tanpa melihat jam dinding yang mulai menyebalkan itu, aku meraih telepon genggam yang setia sekasur bersamaku. 


Ternyata sudah siang. Dan sudah Desember. Sepuluh.

Memasuki pertengahan bulan Desember membuatku agak terkejut. Mungkin bukan aku saja yang terkejut, bisa juga kau. Dengan rentetan resolusi tahun 2014 yang perlu kita penuhi mengingat tahun ini akan segera ditutup dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Ya, kita memang takut dengan tenggat waktu, deadlines. Bukankah kita manusia deadlines yang seringkali panik jika batas waktu sudah jelas memantik? Aku pikir ucapan Haruki Murakami dalam Dance Dance Dance ada benarnya, "Unfortunately, the clock is ticking, the hours are going by. The past increases, the future recedes. Possibilities decreasing, regrets mounting." Bagi sebagian orang, waktu yang berjalan adalah suatu ketidakberuntungan. Dan aku merasa dalam keadaan yang sangat tidak beruntung. Hampir tujuh bulan balik dari Belanda, banyak waktu yang terbuang percuma (walau aku yakin tidak ada yang percuma). Khususnya untuk bagian akademik. Tesisku sama sekali tidak menunjukan progress yang dapat dibanggakan, bahkan oleh ego-ku sendiri. Harus aku berikan sedikit pujian untuk diriku sendiri bahwa ada sedikit kemajuan; proposal penelitianku sudah diterima. Namun sampai saat ini aku masih berkutik pada revisi yang enggan aku selesaikan. Apalagi berkorespondensi dengan dosen pembimbing di Twente dan juga narasumber di lapangan? Aku sering beralasan ini pasti karena kerjaan sampinganku yang menuntut untuk meningkatkan performa yang selalu menguras tenaga di akhir hari. Aku juga bisa menambahkan alasan bahwa literatur yang aku butuhkan (dan dosenku sarankan) itu sulit aku dapatkan baik di dunia maya maupun perpustakaan kampus. Alasan-alasan lain bermunculan: kesibukan, internet jelek, mood swing, dan lebih dari seribu satu alasan lainnya. Lalu penyesalan mulai muncul, mengapa aku harus mengambil topik yang susah dengan lokasi penelitian di hutan lindung yang tak terjangkau oleh ongkos mahasiswa.  



Bersembunyi di belakang alasan-alasan ini,



I started feeling a little bit pathetic. 


Menjelaskan semua alasan-alasan dangkal itu memang tidak membawa perubahan ataupun semangat. Oui, Coelho, vous etes vrai: Don't waste your time with explanations, people only hear what they want to hear. Tapi setidaknya, aku bisa menumpahkan sedikit kekecewaanku pada diri sendiri di sini. Di saat seperti ini, aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang hilang, atau setidaknya berubah. Mungkin aku tidak menemukan lagi diriku yang rajin menggebu-gebu mengerjakan tumpukan tugas-tugas. Mungkin aku tidak menemukan lagi diriku yang ingin semua resolusinya tercapai dalam satu tahun. Mungkin aku tidak menemukan lagi diriku yang menatap cermin dan bermonolog panjang semalaman.


Mungkin aku lelah (I know it sounds wrong).

Tapi itulah hidup, kadang kita menemukan, kadang kita kehilangan.

Saya jadi teringat, pernah seorang teman meminjamkan satu buah buku berjudul Le Petite Prince karya Antoine de Saint Exupéry. Sebuah cerita yang menarik, unik, dan juga sederhana. Salah satunya adalah saat Sang Rubah berkata kepada Pangeran Kecil: On ne voit bien qu'avec le cœur. L'essentiel est invisible pour les yeux. Artinya, kita dapat melihat sesuatu dengan jelas dengan hati, karena apa yang penting tidak terlihat oleh mata.

Hubungannya dengan waktu? deadlines?

Dalam benak saya, biasanya kita mengetahui waktu dengan melihat penanda waktu itu sendiri: angka di jam, tanggal di kalendar, yang membuat kita sadar akan keterbatasan kita dalam keluasan waktu. Finity within infinity. Biasanya sadar akan kehabisan waktu, kita menjadi resah dan gelisah. Namun sebenarnya jika kita menutup mata dan biarkan hati melihat sejenak, akan ada sudut pandang lain yang tidak dilihat mata. Pada kasusku ini, mungkin memang belum saatnya aku melihat tesisku ini terselesaikan, namun banyak sekali hal lainnya yang bisa aku lihat.




So, what do you see, heart?

Comments

Post a comment