Melamar ke The Jakarta Post, WRI, dan Telkom University

Membangun Kembali Karir yang Tertinggal


Sekembalinya dari Australia April 2019 aku perlahan-lahan mulai membangun kembali karirku. Sejak 2016 hingga 2019 aku banting stir melancong sambil bekerja apapun untuk menghidupi diri. Latar belakang pendidikan terakhirku adalah lingkungan, sementara pekerjaan paling lama yang pernah menafkahiku adalah jurnalis televisi. Saat melancong ke Australia dengan tujuan jeda karir aku berpindah haluan ke bidang keramahtamahan alias hospitality. Aku belajar menjadi barista, kitchenhand, sous-chef, tukang kebab, all-rounder, stocktaker, housekeeper, dan public area cleaner. Semua aku pelajari otodidak bermodalkan keinginan bertahan hidup dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. 

Tulisanku Menjalani Jeda Karir di Australia

Aku tidak memiliki latar belakang memasak, tapi kini aku bisa membuat sushi, beef teriyaki, karage, dan beberapa masakan Jepang rumahan lainnya lengkap dengan bumbu racikan aslinya. Aku tak berminat menjadi barista ataupun bartender, tapi aku berusaha mempelajarinya melalui sertifikasi barista dan Responsible Service Alcohol. Aku juga bukan orang yang teliti, resik, maupun people-person. Tapi, aku bisa bekerja di beberapa hotel bintang lima di Australia. Yang terakhir ini sebetulnya bagian dari perjalanan spiritualisme yang tidak aku duga akan aku alami. Inilah yang aku rasakan sebagai Wille zum Leben alias will to life yang dikembangkan filsuf Jerman Arthur Schopenhauer yang banyak memengaruhi pandangan hidupku. Berbeda dengan will to live dalam psikologi sebagai dorongan untuk bertahan hidup, konsep will to life milik Schopenhaure mendefinisikan kehendak sebagai sebuah kekuatan konstan yang mendorong kita terus maju, bergantung pada keberadaan, dan melihat secara cerkas keuntungan yang ada. Bisa dikatakan kehendak ini sifatnya primordial, buta, tak terarah, cenderung bodoh dan sangat insisten. Hal ini yang aku pelajari dalam internalisasi dan mengekspos kesadaranku kepada bagian dari perjalanan spiritualisme diri. Mungkin aku akan menceritakannya lebih lanjut nanti.

Kembali ke pengalaman bekerja di Australia, secara material, bekerja sebagai migran di Australia bisa mendulang banyak uang. Namun begitu, karirnya stagnan jika tidak memiliki pendidikan dari sana. Beberapa teman kerjaku ada yang menjadi room attendant selama tiga puluh tahun. Yang aku salut, mereka tetap bangga. Mereka berkata menghidupi keluarga mereka dengan uang yang mereka hasilkan dari keringat mereka sendiri adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Aku juga tidak pernah malu mengakui pekerjaan yang pernah menghidupiku. It gets me where I am now. Saat aku bekerja di dapur restoran maupun di hotel, aku selalu berterus terang kepada orang tuaku dan meminta restu serta doa mereka. Aku tumbuh dengan pengalaman bahwa tidak ada pekerjaan yang mulia, semua pekerjaan sama saja asal dilakukan sepenuh hati dan halal. Tiap pekerjaan memiliki kesulitannya masing-masing dan punya kontribusi masing-masing dalam masyarakat. Oleh karena itu aku sangat menghargai mereka yang bekerja membersihkan toilet, mencuci piring, dan apapun itu selama mereka lakukan dengan sadar, jujur, giat, dan demi kehidupan mereka sendiri (walaupun ini bisa dibedah secara panjang lebar dengan perspektif marxisme sebagai bentuk kesadaran semu). Setidaknya mereka yang aku kenal selalu berkata bahwa lelah mereka lebih berarti dan dihargai di negara ini ketimbang negara mereka sendiri. Jadi, buat apa memiliki posisi tinggi tapi hanya tergerus kekuasaan dan materi? Tak ada pekerjaan mulia. Menteri pun bisa korup dan guru pun bisa cabul. Sekali lagi aku menegaskan keyakinan diri, bagiku tak ada pekerjaan yang mulia. Semua pekerjaan dengan niatan meraih rezeki dan meminta rida-Nya adalah mulia.

Tulisanku tentang Pengalaman Hidup di Australia 

Kembali ke April 2019, aku mulai melamar sebagai pegawai proyek satu konsultan lingkungan dengan UNESCO. Tugasku membantu menyiapkan akomodasi dan kajian wilayah. Hal ini cukup menyenangkan walaupun hanya tiga minggu lamanya. Selanjutnya aku bekerja sebagai interpreter dan translator sebuah lembaga nonprofit di bidang pendidikan. Aku bekerja di bawah divisi pendidikan anak usia dini. Pengalaman di lapangan ternyata banyak memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagiku. Sambil bekerja projek, aku mencoba melamar pekerjaan permanen. 

Tulisanku Tentang Pengalaman Bekerja Lepas

Sebenarnya aku sudah melamar ke beberapa perusahaan sebulan sebelum pulang ke Indonesia. Salah satunya adalah World Resources Institute. Sementara untuk  lamaran The Jakarta Post memang aku kirimkan setelah aku tiba di Indonesia. Tak lama dari April 2019, aku mendapatkan panggilan tes dan wawancara dari empat tempat yang aku lamar, yaitu The Jakarta Post, WRI, Telkom University, dan kantorku dulu. Yang terakhir sebetulnya aku diminta kembali bekerja di sana karena aku masih berhubungan baik dengan atasanku dulu. Mengetahui aku sudah kembali pulang, beliau memintaku untuk kembali bekerja di perusahaan media tempatku bekerja dulu. Karena aku ingin mencoba memperluas bidang keahlian dan zona nyaman karirku, aku terpaksa dengan berat hati menolak tawaran atasanku tersebut.

Satu persatu proyek sudah selesai sambil menjalani rekruitmen pekerjaan. Di antara The Jakarta Post, WRI, dan Telkom University, proses rekruitmen menjadi jurnalis The Jakarta Post adalah yang paling panjang dan melelahkan. Pertama, ada tes membuat berita (skill test). Kedua, psikotes komplet. Ketiga, wawancara dengan user. Keempat, wawancara dengan redaksi. Wawancara dengan redaksi ini yang membuatku sedikit terintimidasi karena aku diwawancarai oleh enam orang sekaligus dengan satu orang psikolog. Namun begitu, menurutku wawancara berjalan santai dan aku menjawab apa adanya. Oh ya wawancaranya dilakukan dalam bahasa Inggris. Beberapa dari mereka tampak kurang yakin dengan kehadiranku di ruangan itu:

Undangan Wawancara di The Jakarta Post


"So, you just got back from Australia, but why did you decide to apply for this position?" Seorang bapak paruh baya memulai percakapan.

"Journalism has been my passion and I want to re-establish it as my professional career once I get back to Indonesia. So when I found out there was an opening at Jakarta Post, I immediately applied." Aku mencoba menjawab dengan yakin.

"But you know that being an early-career journalist does not earn you so much." Seorang Ibu kemudian menjawabku dengan nada penuh perhatian.

"That's a common secret in journalism world. But I guess Jakarta Post has been popular for its reputation and credibility. I don't mind starting over as long as I have still some rooms to grow."

"Ini kamu master degreenya ada dua, terus IPK-nya cum-laude dan pula. Terus pengalaman kerja kamu juga cukup banyak. Apa kamu yakin kamu gak merasa overqualified? Gimana kalau kami gak bisa menggaji kamu sesuai dengan ekspektasi kamu?" Seorang bapak yang sepertinya paling tua bertanya dalam bahasa Indonesia.

"Sebelum saya melamar ke sini, saya sudah mencari tahu berapa gaji standar seorang jurnalis junior di sini. Selain itu saya seorang fatalis. Saya percaya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tinggal usaha saya menjemputnya sekeras apa." Aku mencoba jujur menjawab pertanyaan Bapak tersebut.

"Can you convince us you're the best candidate for us?" Bapak paruh baya kembali bertanya.

"I don't know if I'm the best candidate. Many candidates must be better than me. However, you already have my full resume and portfolio and you also have my test score. Additionally I am currently residing in Bandung. So every time I was informed I passed to the next process, I went to Jakarta from Bandung the same day to show how willing I am to work at Jakarta Post. If I am not taking this seriously, I wouldn't be here. I hope it is convincing enough."

Ada jeda hampir sepuluh detik.

"So what did you take to get to Jakarta?" Seorang ibu menyambung jeda yang menggantung tersebut.

"I took the earliest train at five o'clock in the morning."

Setelah itu aku dipersilakan pulang. Saat menunggu ojek daring, psikolog yang dari tadi mengamatiku memberitahuku bahwa nanti akan ada offering gaji oleh kepala HRD dan di situ aku dipersilakan untuk menegosiasi. Aku memastikan kapan dan menurutnya hari yang sama akan ada negosiasi lewat telepon. Aku menunggu dan memastikan baterai ponselku terus terisi penuh.

Beralih ke WRI. Rekruitmen Jakarta Post cukup melelahkan dan panjang, tapi dalam waktu yang relatif singkat. Sementara di WRI rekruitmennya sungguh sederhana, tapi penantiannya sangat panjang. Sejak Februari dan baru dipanggil untuk wawancara November, tujuh bulan kemudian. Gedungnya menyatu dengan Gedung PMI. Wawancara tidak lebih dari tiga puluh menit dan tidak sebanyak pewawancara di The Jakarta Post. Di surel disebutkan aku akan diwawancarai empat orang, tapi yang muncul hanya tiga orang. Posisi yang aku lamar adalah research analyst. Wawancara berlangsung sebagian besar tentang teknis perhitungan sekuistrasi di lahan gambut dan peran komunitas di lahan gambut.

 

Undangan Wawancara WRI

"Kamu terbiasa bepergian jauh?" Seorang perempuan berkerudung menanyaiku.

"Iya. Saya biasa melakukan riset baik secara mandiri di lapangan maupun dengan tim. Saya juga baru saja pulang dari Australia sebagai bagian dari proyek personal saya."

"Tapi itu bukan untuk urusan pekerjaan dan akademik kan?" Sambung seorang lelaki.

"Betul, walau demikian saya mendapatkan pengalaman dan softskill yang berharga."

"Sayang menghabiskan waktu tiga tahun untuk hal seperti itu. Menurut saya waktunya bisa dimanfaatkan untuk karir kamu." Perempuan lainnya berkomentar. 

Aku tidak membalas pernyataannya tersebut. Sebagai gantinya aku memilih diam dan tersenyum sambil mengangguk.

Wawancaranya hanya berlangsung tiga puluh menit. Aku kemudian dipersilakan pulang dan menunggu kelanjutannya. Aku juga diinformasikan bahwa jika lolos, akan ada wawancara dengan HRD, kemudian tanda tangan kontrak.

Di bulan yang sama, aku juga melamar ke Telkom University sebagai dosen. Proses rekruitmennya sangat cepat dan masa tunggunya juga sebentar. Tak lebih dari dua bulan. Prosesnya meliputi pendaftaran dengan berkas yang lumayan banyak, microteaching, wawancara, psikotest, dan orientasi. Sebetulnya tak ada di benakku untuk berkarir sebagai dosen. Namun begitu, aku memang sudah terbiasa dengan microteaching dan manajemen kelas. Aku pernah mengajar les di beberapa tempat dan menjadi tutor untuk dua mata kuliah saat kuliah sarjana dulu. Di saat yang bersamaan aku juga pernah mengajar bahasa Inggris untuk prodi laboratorium teknologi di STIKES Rajawali dan saat sedang kuliah Lingkungan, aku juga berkesempatan mengajar Kimia Lingkungan di UIN Bandung. Aku membantu mengukur pengambilan air di DAS Bandung. Karena itu aku mencoba menumbuhkan percaya diri dengan pengalaman manajemen kelas dan wicara publik yang aku miliki. 

Setelah microteaching kemudian ada wawancara. Mereka yang menilaiku microteaching adalah yang mewawancaraku juga. Aku diawancarai tiga orang. Dua orang menggunakan bahasa Indonesia, satu lagi menggunakan bahasa Inggris.

Surat Elektronik Kepastian 

"Resumenya bagus. Kenapa gak kerja di Australia aja?" Seorang Bapak mulai bertanya setelah membolak-balikkan resumeku.

"Visa saya sudah habis pak." Jawabku singkat.

"Kenapa kerjanya gak nyambung di Australia?" Tanyanya lagi.

"Saya sudah mencoba melamar ke puluhan perusahaan yang sesuai dengan latar belakang saya, tapi ditolak. Jadi untuk bertahan hidup saya bekerja apa saja yang ada asal halal. Tak terasa waktu visa saya sudah habis dan saya tidak mendapatkan pekerjaan yang bisa mensponsori saya tinggal di Australia. Akhirnya saya pulang." Sebetulnya jawabannya lebih kompleks dari ini, tapi aku berusaha menyederhanakannya.

"Hebat juga kamu. Kerjaannya macam-macam. Kenapa kamu ingin jadi dosen?" Tanya Bapak satunya lagi.

"Saya sudah ada dasar pengalaman mengajar dan familiar dengan tridharma perguruan tinggi."

"Iya, tapi kenapa kamu melamarnya ke sini, jurusan ini pula? Kan gak nyambung kalau dilihat dari pendidikan kamu." Ia sedang menggali jawabanku.

"Menurut saya Komunikasi bisa dikatakan prodi transdisipliner dan interdisipliner. Walaupun saya tidak punya liniearitas, tapi pengalaman saya sebagai jurnalis TV dan pendidikan saya semuanya berhubungan dengan komunikasi. Selain itu posisi yang saya lamar adalah dosen profesional part-time sehingga tidak dituntut ada liniearitas." Aku masih mencoba menjawab dengan diplomatis.

"Iya paham, tapi kenapa milihnya ke sini?" Bapak yang sedari tadi diam mulai bertanya.

Aku menarik napas dalam-dalam, "Kalau boleh Jujur, ya karena posisi ini yang buka dan saya butuh pekerjaan tetap." Akhirnya aku menyerah.

"Yakin butuh pekerjaan tetap? Dari resume kamu saya lihat kamu orangnya suka menclak-menclok. Apalagi ini kayaknya kamu doyan berpetualang. Terus kayaknya juga kamu belum ada ikatan. Jadi gak ada yang mengikat kamu di Bandung." Masih Bapak yang satunya lagi yang bertanya.

"Orang tua saya semakin lama semakin sepuh, pak. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka." Ini memang salah satu alasan kenapa saya memilih tinggal di Bandung.

Kemudian mereka diam.

"Okay, we want you to join us but with one condition. You have to work full-time, instead of part-time." Ibu yang sedari tadi diam saja kini mulai berbicara.

Aku mencoba mencerna pelan-pelan tawarannya. "Well, if that is your consideration, it would be my pleasure. I will do my best."

“Tapi bukannya kamu lagi terikat kontrak dengan NGO ini?” Bapak yang awal bertanya lagi.

“Betul pak. Tapi proyek yang sedang saya tangani sebentar lagi akan selesai. Saya berencana mengubah status pegawai saya dari kontrak jadi project-based."

Setelah wawancara selesai aku disuruh menunggu lagi. Aku tak tahu apakah aku akan bekerja di WRI, The Jakarta Post, maupun Telkom University. Yang jelas aku berdoa supaya ditunjukkan yang terbaik.

Dari ketiga wawancara tersebut aku punya tiga pemahaman tentang diriku sendiri dan pekerjaan:

1.     Aku baru sadar bahwa ternyata kemampuanku bertahan hidup cukup bisa diandalkan. Aku bisa bekerja apa saja yang penting halal. Mulai dari tukang cuci piring, jurnalis, serabutan, sampai pekerjaan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. I sincerely thank my self-perseverance for having been taking me so far. Aku harus lebih menghargai kemampuanku sendiri.

2.    Menjelang usia 30 tahun, aku memberanikan diri untuk memulai lagi karirku. Bisa dikatakan dari nol. Hal ini bukanlah hal lumrah bagi orang di sekelilingku. Standar sosial yang dikonstruksi pada usia tersebut biasanya adalah sudah memiliki pekerjaan tetap, properti, menikah dan beranak, atau menikah lagi dan beranak lagi. Sebetulnya standar sosial seperti ini tidaklah salah. Tetapi, seringkali standar sosial seperti ini secara tidak disadari bersifat memaksa atau forced. Padahal setiap orang memiliki jalan kehidupan dan pemberhentiannya masing-masing. Belum lagi titik mulai tiap orang juga berbeda-beda, pasti garis finis pencapaiannya juga berbeda. Itu mengapa kebanyakan yang mewawancaraku menganggap pengalaman kerjaku cukup aneh. Tiap orang tentunya memiliki prioritas hidupnya masing-masing. Karena itu membandingkan satu prioritas hidup orang dengan orang lain, meminjam bahasanya Thomas Kuhn, adalah incommensurable. Layaknya membandingkan air dan api yang pada titik tertentu keduanya memiliki karakter yang berbeda. Mungkin yang sama dari kita semua adalah momen kelahiran yang menjadi awal dan kematian yang menjadi akhir kehidupan duniawi ini. Kita sama-sama menjalani kehidupan di sini. Namun lagi-lagi aku harus ingat bahwa hidup di masyarakat yang kolektivis dan komunal seperti di sini, bisa menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat menjadi penting.

3.    Your life is not your job. Semakin tua aku semakin menyadari ini.  Kalau kamu punya pendapat bahwa hidupmu adalah pekerjaanmu, silakan. Hanya saja kita punya pilihan bahwa hidup tidak harus melulu tentang pekerjaan. Pekerjaan adalah yang menopang hidup, bukan hidup yang menopang pekerjaan. Agak sulit berbicara ini karena tiap orang memiliki privilese berbeda di mana semakin hari semakin sulit melepaskan diri dari kapitalisme yang mengakar kuat dalam tiap linik kehidupan sehingga menormalisasi perbudakan modern. We volunteer to get exploitated. Setidaknya dengan memilih jalan hidup kita tanpa pengaruh orang lain, kita bisa menjalani hidup yang lebih fulfilling. Yakin dengan jalan hidup yang kita pilih masing-masing. 

Sambil menunggu hasilnya, aku tetap melakukan pekerjaan lepas dan ikut sertifikasi ini-itu untuk mengisi waktu luangku. Dari ketiga tempat tersebut aku menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Kalau memang ketiganya bukan jalanku juga aku ikhlas. Yang penting aku sudah mencoba. Akhirnya dua minggu sebelum tahun baru 2020, aku mendapat kabar bahwa aku lolos menjadi dosen tetap Telkom University.

Jikalau melihat ke belakang, aku sebetulnya belum pernah berjodoh dengan Jakarta tempat kedua perusahaan yang aku lamar itu. Paling lama aku tinggal di Jakarta adalah untuk keperluan diklat kantor 2016 sekitar dua atau tiga bulan. Pernah aku jalan kaki di sekitar SCBD malam hari dan kepalaku mendadak pusing melihat gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampu jalanan dan gedung yang berpendar. Setelah itu aku mungkin tersugesti bahwa aku tak akan bisa bertahan bila lebih dari itu. Tapi sekembalinya dari Australia aku memberanikan diri berikhtiar kerja di Jakarta.

Sampai sekarang baik The Jakarta Post maupun WRI tidak ada informasi yang mengkonfirmasi bahwa aku gagal. Tapi aku sadar diri bahwa sudah lebih dari tiga minggu aku menunggu, jadi aku anggap saja aku memang gagal. Mungkin memang aku tidak kompeten. Atau memang kualifikasiku memang tidak cocok dengan yang mereka cari. Aku perlu belajar mengakui kegagalan ini secara sportif. Kegagalan adalah hal lumrah.

Pada akhirnya hakikat mencari nafkah adalah lebih dari sekadar bertahan hidup, tetapi juga termasuk pembelajaran diri yang ditunjukkan masing-masing takdir. Mungkin untuk sekarang rezekiku bekerja di Bandung adalah silabus hidup yang harus aku cerna sampai tuntas dulu. Belajar sabar, berserah diri, dan menjalani apa adanya.


Comments