Belajar Resiliensi Sepanjang 2025


BTS 100 Cat 102 KM


Halo, apa kabar? Semoga baik dan sehat.

Anyway, selamat tahun baru 2026!

Semoga tahun ini kita bisa menuju lebih baik: kepribadian, keuangan, spiritualitas, atau apa pun itu yang diidamkan. Hari ini Jumat, 2 Januari 2026, aku menulis saat mengambil cuti akhir tahun. Aku baru beres melakukan beberapa kali sesi freedive di Banyuwangi setelah vakum latihan kurang lebih dua tahun. Sebagai pengingatku, sebelum freedive lagi ada kalanya aku latihan lebih rutin terlebih dahulu. Tapi seperti biasa, akhir tahun adalah ritual pribadiku untuk merayakan segala yang terjadi di tahun 2025: baik dan buruknya; suka dan dukanya; naik dan turunnya. Dan vakansi ini adalah kado kecil untuk diriku sendiri.

November lalu aku mendapat tagihan domain blogku ini yang perlu diperpanjang. Aku berpikir agak lama: haruskah aku meneruskan menulis di sini atau perlu aku stop saja. Perkaranya bukan ketakutan ada yang baca atau tidak karena tujuanku menulis di sini hanya menulis saja. Aku lebih khawatir saat aku buka blogku ini, hanya ada dua tulisan yang aku buat di 2025 dan tiga catatan di 2024. Hal ini tidak bisa membantah bahwa kemampuan (dan juga kemauanku) untuk menulis di blog semakin lama semakin lemah. Entah karena sibuk (seperti alasan kliseku yang sering aku lontarkan pada umumnya) atau karena memang aku tidak memiliki banyak hal untuk dituangkan di sini. Untuk yang kedua sepertinya tidak benar karena justru aku punya banyak hal yang ingin aku bagi, tapi tak kunjung menemukan waktu dan energi. Dan kawan, percayalah bagi kelas pekerja yang sibuk menafkahi diri dan keluarga, waktu dan energi untuk aktualisasi diri menjadi mata uang yang sulit diperoleh di era komodifikasi ini. Lucunya aku sempat ingin pindah haluan ke substack yang lebih modern dan kalcer. Tapi sepertinya aku ragu bisa mengelolanya. Jadi, untuk setahun ke depan aku akan terus menulis di sini karena sudah aku perpanjang domainnya. Semoga aku bisa istikamah.

Aku rasa Gen Z saat ini sudah jarang menulis di wordpress atau blogger. Banyak alasannya, salah satunya karena media sosial yang berbasis visual lebih nyaman bagi mereka. Bagi Gen Y sepertiku, media sosial seperti blog ini merupakan upayaku mengekalkan perasaan, pikiran, dan pengalamanku secara terstruktur. Aku juga memang memiliki media lain untuk menulis dan journaling, yaitu jurnal pribadi yang selalu aku bawa ke mana-mana dan media sosial berbasis visual dan microblogging, yaitu X dan Instagram yang masih aku nikmati dengan sadar. Tapi kadang, dengan maraknya AI dan algoritma yang kadang preferensinya tidak sesuai dengan perilaku kita, media sosial menjadi satu platform yang tidak ramah karena didesain untuk mindless browsing. Karena itu media sosialku sebagian besarnya aku gunakan sebagai jurnal untuk mengingat jalannya hari, jika energi dan waktu sudah tak mencukupi untuk dialaskan di jurnal harian. Sebagian kecilnya aku gunakan untuk berjejaring. Aku sering berbagi pikiran dan perasaanku akan satu hari yang dialami di media sosial. Dan jika itu pun tak sanggup, biasanya aku ambil tiga foto tentang hari itu.


Freedive di Menjangan

Saat membuka jurnal tulisan dan digital tahun 2025 ini tidak sedikit duka yang bertebaran terlebih sebagai warga negara Indonesia yang ditakdirkan lahir, besar, dan tinggal di Indonesia. Tapi selayaknya hidup yang terus berjalan, aku belajar memetik hari sebaik yang aku mampu. Banyak hal yang bisa direnggut dari kita, tapi semoga salah satunya bukan harapan. Dan harapan layaknya tanaman, harus disiram agar terus tumbuh. Tahun ini adalah tahun ketiga aku membuat tagar #deepjournal di Instagram untuk memupuk harapan dalam menjalani hidup yang absurdnya kadang kelewat batas.

Tahun 2023 aku fokus membuat #deepjournalofacceptance, 2024 #deepjournalofgratitude, dan 2025 #deepjournalofresilience. Karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk pelupa, tagar tersebut mengingatkanku akan hal-hal yang tidak diajarkan di dalam kurikulum sekolah: penerimaan diri, rasa syukur, dan resiliensi. Dan tahun ini aku juga menyadari sesuatu, bahwa momen adalah bentuk intim yang tubuh kita alami. Media sosial hanyalah media, bukan momennya. Dulu aku berusaha mengunggah pengalamanku di dunia nyata ke media sosial secepat yang aku bisa. Misalnya, aku beres naik gunung hari ini. Lantas hari ini atau esoknya aku menyegerakan diri untuk mengunggahnya di Instagram. Kebiasaan ini ternyata mengubah cara pandangku pelan-pelan (dan mungkin tanpa aku sadari) bahwa momen adalah apa-apa yang aku unggah di Instagram dalam waktu tertentu. Ada sense of immediacy untuk mengunggah pengalaman aku di dunia nyata agar kekal di dunia maya sehingga pengalamanku bisa menjadi valid, bukan oleh warganet atau teman-temanku sendiri, melainkan oleh diriku sendiri. Padahal kekekalan di dunia maya yang biasa kita sebut jejak digital juga adalah temporer.

Perasaan sense of immediacy ini secara tidak sadar mengubahku bergerak lebih cepat di dunia nyata termasuk dalam membuat keputusan. Padahal, aku sedang menerapkan pause and reflect sebelum bertindak. Memang sih ada hal-hal yang harus diputuskan secara cepat, tapi ini seharusnya tidak menjadi mode default kita. Berbeda dengan FOMO, sense of immediacy ini lebih personal. Artinya, aku tidak peduli apa yang sedang menjadi tren, tapi aku peduli apa yang menurutku penting, termasuk saat aku mengunggah konten bertagar #deepjournalofresilience. Bisa jadi aku takut lupa atau punya hyperfixation terhadap mengekalkan kenangan. Apa pun itu, unggahan ini aku lakukan di akhir bulan dengan mengurasi pengalaman apa saja yang terjadi padaku: baik dan buruk, suka dan duka. Karena aku punya komitmen kepada diri sendiri untuk mengunggah konten tersebut, ada kalanya sebelum pukul 00.00 akhir bulan, aku tenggelam dalam waktu mengurasi foto-foto yang merepresentasikan pengalamanku. Pada bulan-bulan yang santai, kegiatan tambahan ini aku nikmati. Pada bulan-bulan yang sibuk, kegiatan ini terasa seperti pekerjaan dengan tenggat waktu yang memacu jantung. Agak lucu sekaligus ironis. Tapi inilah upaya-upaya kita menolak lupa.

Tahun ini ada kegagalan dan kehilangan yang aku alami, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin hidup bukan sebuah siklus mengulang, melainkan perjalanan panjang seperti garis lurus. Tak ada satu detik yang terulang sama. Tahun ini aku gagal mendapatkan beasiswa short course dan melanjutkan sekolah lagi. Aku juga kehilangan seorang teman yang berpulang ke haribaan. Butuh waktu, tapi aku belajar menerima itu semua dengan lapang dada. Kegagalan dan kehilangan adalah bagian inheren dari kehidupan.

Tahun 2025 membangun ulang resiliensiku. Aku nekat mengikuti Tahura Trail Run 42 KM dan BTS100 Ultra Kategori 102. Aku bukan pelari cepat apalagi punya ambisi meraih waktu personal terbaik. Berlari bagiku seperti mengenal lebih dalam Sang Pencipta melalui napas, pikiran, dan perasaan yang merasuk menjadi aku. Dan sesungguhnya tantangan terberat saat ikut lari jarak jauh adalah persiapan dan latihannya. Di tengah waktu sibuk yang diimpit pekerjaan, menyiasati agar bisa latihan lari sesungguhnya adalah mengenal diri sendiri. Ada kalanya aku latihan berlari bersama teman-temanku sampai 70 KM dari pukul 6 pagi sampai pukul 9 malam. Ada kalanya aku latihan sendirian di Gede Pangrango. Ada kalanya latihan lariku masuk ke alam bawah sadar dan muncul sebagai bunga tidurku. Aku menyadari bahwa menyendiri dan berteman dengan sepi itu juga bagian inheren dalam kehidupan. Semakin nyaman dengan diri sendiri, kita akan semakin nyaman menyendiri dan menyepi. Tapi di sisi lain, kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Aku bersyukur bisa mengikuti Tahura Trail Run 42 KM dan BTS100 Ultra 102 KM dan finis keduanya dengan bahagia dan selamat. Selain capek, berlari 102 KM mengenalkan banyak sensasi baru bagiku. Bagaimana rasanya 28 jam berjalan dan berlari di gunung dari malam ke subuh ke siang ke malam dan ke subuh lagi? Ada kalanya aku berjalan dan setengah berlari sambil memejamkan mata setengah tidur. Ada kalanya aku hanya bisa menarik napas panjang saking lelahnya. Ada kalanya juga pancainderaku sudah tidak bisa dipercaya karena kelelahan aku mulai melihat dan mendengar hal-hal yang tidak mungkin: burung hutan memakai mukena putih dan suara azan di hutan. Ada kalanya aku berkontemplasi tentang orang tuaku, tentang orang-orang yang bertemu dan berpisah denganku, tentang diri sendiri. Dan aku bersyukur masih bisa bernapas dan merasakan lelah. Berlari bagiku membakar semangat hidupku menjadi semakin menggelora. Dan, mungkin, ternyata aku ini orangnya pantang menyerah. Aku juga baru tahu itu. Padahal aku melihat diriku sendiri sebagai orang yang demotivasional dan pemalas. Dan 'bisa' ini bukan karena aku, melainkan karena diizinkan oleh Sang Pencipta. Tiada daya dan upaya selain atas seizin-Nya, aku mungkin sudah menyerah di 10 KM pertama.

Selain lari, aku juga masih sempat bersepeda jarak jauh. Rockford, sepedaku yang pernah membawaku ke Denpasar dan Lombok itu harus pensiun. Sejujurnya, aku yang orangnya sentimental ini cukup sedih karena sepeda ini adalah sepeda pertama yang aku beli dari tabunganku menjadi dosen. Rockford ini bukan sepeda mahal dan mewah di kalangannya. Biasa saja, tapi super tangguh. Dan ketangguhannya itu satu hari tiba-tiba runtuh. Setelah diinapkan di bengkel sepeda, ia didiagnosis tidak bisa lagi berjalan jauh karena hanger front derailleur-nya patah dan tak dijual dipasaran. Tak mengapa. Setiap barang ada umur dan jodohnya. Karena Rockford sudah pensiun, awalnya aku agak ragu menerima ajakan teman-teman Sumber Senang untuk gowes jauh ke Salatiga. Setelah menimbang cukup lama (karena berurusan dengan uang) dan mengingat pergowesan adalah salah satu kado kehidupan yang paling fulfilling bagiku, akhirnya aku putuskan menambah keluarga baru ke dalam dunia gowesku: sebuah roadbike Strattos S7D yang aku tukar dengan sebagian besar tabunganku.


Bersepeda di Salatiga


Berbeda dengan Rocky yang tangguh di segala medan, Strattos ini harus dikendarai secara anggun karena fokusnya adalah kecepatan. Berangkatlah kami bertujuh ke Salatiga. Bersepeda dengan teman-teman Sumber Senang tiada yang tidak berkesan. Karena kami punya speed dan frekuensi yang kurang lebih sama, kami bisa akur bersepeda di jalan raya untuk lima hari ke depan. Tiba di Salatiga aku sempat bertemu seniorku di tempat kerja dan keluarganya yang kini sedang menetap di Salatiga. Kami berbincang banyak tentang hidup melamban di Salatiga. Salah satu cita-citaku kalau ada umur panjang untuk pensiun. On a side note, bagiku hidup melamban (slow living) bukan perkara tempat belaka, melainkan juga cara pandang kehidupan. Karena ada pula yang tinggal di tempat ideal untuk hidup melamban, tapi pikirannya tetap sibuk bergemuruh. Ada pula yang hidup di tempat yang penuh hingar bingar, tapi pikirannya tetap bisa tenang melamban. Teman-temanku berpisah di Salatiga, sementara aku dan Kodok berangkat menuju Malang. Kami mampir ke rumah sahabatku, Gelar, di Pare dan bermalam dua malam di rumahnya. Kami diterima dengan baik oleh Gelar dan keluarganya. Terima kasih atas penerimaannya yang luar biasa. Setelah itu kami berdua lanjut ke Malang dan tiba setelah bersepeda 500 KM lebih dari Bandung.

Tahun 2025 aku juga mendapat kesempatan berkunjung ke Tokyo untuk urusan pekerjaan. Dan memang jika urusan pekerjaan, tidak bisa dianggap sebagai liburan karena amanatnya adalah untuk bekerja. Tapi setidaknya di sela-sela waktu luang aku coba siasati untuk mengeksplorasi sudut-sudut kota. Aku berkunjung ke toko buku yang sudah jadi incaranku sejak lama dengan yang berada di bawah naungan salah satu penerbit besar di Jepang, Iwanami Shoten. Aku juga sempat mengunjungi Tokyo Skytree yang saat itu sedang membuka ekshibisi My Hero Academia, salah satu shonen favoritku.


Strolling around di Kawaguchiko


Salah satu momen yang life-changing dalam hidupku tahun 2025 ini adalah saat aku menerima amanat baru dalam pekerjaanku. Aku sedang mempersiapkan S3-ku di tahun 2025 lalu. Beberapa kali daftar ke kampus luar yang fokus pada Komunikasi Lingkungan. Beberapa menjawab, beberapa menolak. Di tengah pencarian sekolah buatku, aku ternyata diamanati tugas lain. Sebelumnya tugasku adalah menjadi sekretaris prodi untuk kelas internasional. Kini aku dipercayakan tanggung jawab untuk bergabung dengan perpustakaan kampus. Aku sebetulnya ingin menolak dengan beragam alasan yang salah satunya adalah aku merasa kurang kompeten di perpustakaan karena tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai pustakawan. Tapi akhirnya aku terima keputusan apa pun yang menuntunku. Aku sangat percaya rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencanaku. Tahun ini memang belum rezekiku untuk lanjut sekolah. Dan kini aku sangat menikmati bekerja di perpustakaan.

Begitulah hari-hari berlalu. Kadang ada yang terasa begitu cepat berlalu sekejap mata, ada pulang yang lamban seperti siput berjalan. Ada yang dihiasi tawa bahagia, ada pula air mata nestapa. Jika ada yang bisa aku rangkum dari 2025, setiap waktu dan pengalaman itu berharga dan membentuk kita menjadi sesuatu yang akan kita sadari nanti. Resiliensi, bagiku, menjadi satu kemampuan untuk bangkit saat kita terjatuh. Kemampuan ini perlu dilatih melalui waktu. Dan aku percaya waktu memulihkan jika kita percaya dan mau.

Perihal resolusi 2026, sudah lama aku berhenti membuat resolusi tahunan. Mungkin kalau pun ada, resolusiku tiap tahun adalah menjalani hidup sebaik-baiknya dan belajar menjadi baik. Menerima jika ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Memproses segala duka dan lara. Bagiku pencapaian terbesar tahunan kita semua adalah kita masih bisa survive dan thrive. Menikmati hidup apa adanya dengan segala keterbatasan menjadi bagian penting dalam hidup. Jika sempat, aku bersepeda dan bahkan lari ke kantor. Sesekali melakukan perjalanan jauh. Bercengkerama dengan teman-teman dekat dan orang-orang terkasih. Jika ada rencana, ya aku jalani. Jika rencana itu berubah, ya aku syukuri. Aku sering mengingatkan diri sendiri: bekerja secukupnya, lalu beri ruang bagi diri sendiri untuk merasakan hidup. Aku pun memiliki banyak keterbatasan. Begitu pula kamu. Tapi keterbatasan itu tidak menentukan hidup kita.

Semoga segala baik yang diupayakan lebih baik tahun ini mewujud sebaik-baiknya.

Sampai jumpa lagi, ya (aku harap dalam waktu dekat)!


Comments