Menolak Mati Rasa


Halo apa kabar? Selamat menikmati  penghujung Juni. Selamat Idulfitri 1447 Hijriah bagi teman-teman yang menjalankan! Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Iduladha juga, dan selamat hari keagamaan lainnya juga. Iya, ucapan ini sudah terlalu basi karena terlalu lama dieram sebagai draf di blogku ini. Sekarang pola pembukaan tulisanku sangat bisa diprediksi: antara menanyakan kabar kamu, mengucapkan selamat (Idulfitri, Tahun Baru, dsb), atau mengucap lama tidak jumpa. Semoga ada kabar gembira dan baik dari teman-teman yang membaca tulisan ini. Yang jelas, dalam kabar pembuka ini aku senantiasa berharap kita semua bahagia, sehat, dan baik-baik saja. Jikalau pun tidak, semoga segera menuju itu semua.


Sudah menginjak penghujung Juni yang menandakan setengah 2026 berjalan berlalu begitu kencang. Tak terasa waktu meluncur begitu saja. Apa kamu juga merasa begitu, ya? Kadang, aku ingin membekukan waktu agar ada banyak pengalaman yang bisa dicecap dengan sempurna oleh tubuh dan pikiranku. Aku sepertinya bakal banyak meracau di tulisan kali ini karena entah kapan lagi aku bisa mengalokasikan waktu dan tenaga untuk mengekalkan perasaan, pikiran, dan pengalaman yang berkelindan satu sama lain menjadi kata-kata. Aku masih punya hutang menulis pengalaman tahun ke enam menjadi dosen, pengalaman pertama ikutan triathlon, bersepeda ke Salatiga dan Malang, pandanganku terhadap lari-larian, belajar journaling, dan banyak lagi. Ya, manusia hanya bisa berencana, usia yang menentukan. Tapi aku coba filter semampuku saja. Aku menulis ini di satu kedai kopi di Bandung kala senja sepulang kerja. Langitnya tak bisa ditolak keindahannya. Begitu pula langit malamnya. Bulannya bulat.

Saat aku buka lagi tulisan ini, ternyata tulisan ini sudah mengeram sebagai draf bulan April yang aku tulis setelah aku mengulang hari lahir ke 37. Selamat bertambah tua juga bagi kita semua. Semoga semakin banyak uban, semakin bijak menerima apa yang bisa diubah dan tak bisa diubah, yang terjadi dan belum terjadi. Karena menjadi tua adalah menerima menjadi bapak-bapak seutuhnya, kini lelucon bapak-bapak semakin relevan dan lucu. Keinginan untuk rebahan dan bermalas-malasan juga semakin kuat. Dan juga menerima menjadi norak (cringe) sama seperti judul tulisan ini: menolak mati rasa. Kadang dengan kesibukan yang membabi buta, patah hati yang bertubi-tubi, dan kegagalan yang tak berhenti, menjadi mati rasa kiranya menjadi pilihan yang lebih mudah. Menjadi zombi yang hidup hanya dihabiskan untuk mencari makan tanpa merasakan sakit.

Aku sempat merasakan seperti itu: mati rasa, kira-kira sepuluh tahun lalu. Ketika aku cek lagi tulisanku tentang numbing aku menemukan tulisanku Journey to Nothingness (yang sangat keminggris sepertinya aku lagi latihan dapat IELTS 8) dan No Longer (yang sangat puitis sepertinya aku lagi kepengaruh Mary Oliver dan Walt Whitman). Apa pun itu, tulisan itu adalah manifestasi perjalananku untuk menolak mati rasa.  Aku tetap bersyukur pernah menuliskan pengalaman itu semua. Dan beberapa tahun belakangan ini, aku jatuh cinta pada hidup ini. Dengan segala naik dan turunnya, suka dan dukanya, pertemuan dan perpisahannya.

Salah satu personifikasi klise dalam hidup yang berkaitan dengan waktu adalah ‘waktu berjalan begitu’ cepat. Tapi katanya waktu berjalan cepat itu memiliki dua arti: hidup sedang sebegitu menyenangkannya sampai waktu terasa seperti berlari, atau hidup sedang terlalu menyibukkannya untuk bertahan hidup sampai kita tak sadar waktu. Bisa jadi juga keduanya: bertahan hidup , tapi tetap dengan cara-cara yang menyenangkan.

Ada banyak yang terjadi selama enam bulan belakangan ini baik secara personal maupun komunal. Bingung juga aku mulainya dari mana. Ada yang aku persepsikan baik, ada juga buruk. Salah satunya adalah tentang oligarki yang kondisinya semakin menyedihkan (mulai dari dolar naik, alih fungsi lahan jadi sawit, MBG, kerusakan lingkungan, dan hak layak hidup kita sebagai warga semakin tergerus). Hal ini membuat amigdala terus aktif dan ada dalam mode bertahan hidup. Melelahkan, ya. Sudah dirundung beban personal, kemudian harus dirundung juga beban komunal. Pekerjaan rumah aku (dan kamu) ke depannya, kita harus bisa memilih lebih bijak siapa yang akan memimpin kita untuk membantu hidup kita lebih baik.

Kalau dipikir-pikir kejadian di dunia ini nilainya perseptual dan solipsistik. Mungkin ada orang-orang yang merasa senang dan baik-baik saja di tengah kondisi seperti ini. Aku juga memiliki privilese yang lumayan bisa membuat aku dan keluargaku bertahan. Walau dari dulu aku tidak punya jaring pengaman (safety net). Ya, satu-satunya jaring pengamanku adalah Sang Pencipta. Jadi, ya sudah satu kebutuhan absolut aku belajar menjalin hubungan yang baik dengan-Nya karena Ia satu-satunya tempat aku bergantung.

Yang paling penting di tengah kondisi carut marut seperti ini, aku setidaknya berupaya menjaga kompas moral diri sendiri agar tetap sejalan dengan nurani dan berusaha menjadi penopang kokoh untuk orang-orang terdekatku yang bergantung kepadaku. Artinya, aku juga harus bisa memproses emosi negatif dengan sehat dan cepat, mengurai kesedihan dan kelelahan dengan cara-cara sederhana, dan juga memperluas kapasitasku emosiku untuk terus mencintai diri sendiri. Belajar dari Erich Fromm dengan pemahaman cinta yang begitu syahdu: orang yang mencintai diri sendiri berarti bisa mencintai orang lain. Mungkin juga, orang yang mencintai takdirnya berarti bisa juga mencintai takdir orang lain. Dan aku juga terus berupaya memperluas kapasitas resiliensi. Salah satu cara yang menurutku paling pas buatku adalah journaling sebagai olah rasa dan pergi ke alam. Inilah dua yang aku coba lakukan secara konsisten sejak lama.

Setahun di Open Library (Juni, 2026)

Oh, ya Juni ini setahun sudah aku bekerja di perpustakaan. Banyak hal yang aku pelajari: tentang buku, tentang orang-orang, tentang diri sendiri, dan tentang alam semesta ini. Tidak semuanya mudah, tapi seperti detik yang berlalu, tiap hal selalu akan terlewati. Banyak juga hal-hal seru yang menyenangkan dan mengasyikkan. Tahun lalu aku berencana melanjutkan sekolah lagi. Beberapa aplikasi sudah aku layangkan. Dan saat aku sedang degdegan menunggu hasilnya, aku ditakdirkan bekerja di perpustakaan. Mungkin ada banyak hal yang harus aku siapkan lebih matang sebelum aku lanjut sekolah lagi secara intelektual dan spiritual. Yang jelas, apa pun yang aku jalani saat ini, aku upayakan ada syukur terpanjat dalam hari-hariku.


Trail run di Malabar (Juni, 2026)

Mundur sebulan belakangan, pertengahan Mei 2026 lalu aku ikut Bali Trail Run di Kintamani, Bali, kategori 30 KM. Setelah BTS Ultra 100 KM November lalu, badanku seperti kehilangan jangkar untuk berlari. Empat bulan tubuh dan pikiranku digempur latihan persiapan berlari 100 KM, dan kala BTS 100 KM rampung, badanku masuk ke dalam mode hibernasi. Dari semangat yang menyala berapi-api menjadi korek api yang mudah padam tertiup angin sepoi-sepoi. Lari seadanya dan semaunya. Seringnya tidur dan rebahan, dan sibuk bekerja. Sampai sehabis Lebaran, aku kembali lari 5 KM.

Keesokan harinya kaki kananku sulit digerakkan alias cingked saat berjalan. Tapi aku tetap masuk kerja karena beberapa kewajiban yang harus aku lakukan. Dan menurutku (yang kadang terlalu dituruti), cedera ini masih dalam toleransi sakitku. Aku takjub pada kakiku karena baru kali ini aku merasakan cedera karena olahraga. Selama aku lelarian, aku belum pernah cedera seserius ini. Hikmahnya adalah ya oh wow kinesio tape yang aku beli dua tahun lalu akhirnya terpakai.

BTR 2026 (Mei, 2026)

Aku segera melakukan fisioterapi demi bisa ikut lelarian lagi. Dari pemeriksaan ternyata ditemukan ada indikasi cedera sindesmosis. Berita baiknya, cedera sindesmosis sangat bisa disembuhkan. Berita buruknya, aku dilarang berlari dulu tiga bulan ke depan untuk pulih. Empat minggu lagi menjelang BTR, aku berusaha seoptimal mungkin untuk memulihkan kakiku. Aku jadwalkan seminggu sekali fisioterapi, seminggu tiga kali latihan pemulihan pergelangan kaki, dan jalan kaki di akhir pekan (bukan lari). Selama aku jalan kaki, aku baru merasa bahwa tubuh dan pikiranku selama ini diajak bergerak cepat. Jalan kaki sejauh 6 KM membuatku belajar meredam ego untuk bisa berlari dan aku jadi punya ruang lebih banyak untuk lebih khusyuk memperhatikan sekelilingku yang melatih koneksi diri sendiri dan kosmik ini. Aku sempat berpikir, kalau pun nanti aku tak bisa berlari seintens dan sebebas dulu, aku akan belajar menerimanya. Paling nanti aku beralih ikut acara jalan santai bersama ibu-ibu dan bapak-bapak (baca: orang tuaku).

Kabar gembira akhirnya datang juga. Seminggu sebelum BTR, alhamdulillah kakiku terasa jauh lebih baik walau belum pulih seratus persen. Saat BTR aku mencoba berkompromi dengan kakiku untuk bisa menikmati lelarian ini. Aku bilang ke kakiku, “Tak apa jalan kaki, yang penting finis, ya.” Dan ternyata aku bisa finis sejam sebelum waktunya berakhir. Aku tak pernah memiliki target waktu finis sesederhana karena aku memang bukan pelari cepat yang akur ditarget. Walau kaki sakit, aku masih bisa menikmati lelarian BTR: berdiri di puncak Batur, melihat Danau Batur dari kejauhan, mencium sinar matahari lebih dekat, menyerap udara segar pegunungan, dan bersenda gurau dengan teman-temanku.

Mungkin pelajaran paling sulit selama berlari adalah membedakan mana mengikuti ego atau mana mengikuti intuisi: kapan harus terus berjuang dan kapan harus berhenti. Bisa jadi, ego akan berkata: aku gak mau nyerah karena akan aku buktikan kepada semua orang bahwa walau kakiku sakit, aku bisa finis gemilang dengan waktu cepat. Tapi intuisi akan berkata: terus saja lari semampunya dan sebisanya sambil mengikuti tubuh dan pikiran, menyerah kalau memang udah gak mampu lagi, ya. Menurutku intuisi itu sama dengan nurani. Mereka memandu kita memahami sejauh mana kapasitas diri bisa selaras dengan konflik dan realitas.

Dan kapasitas diri ini juga perlu dilatih dengan meminta tubuh dan pikiran untuk bekerja sama. Dalam diri kita, ada yang menilai risiko yang terkalkulasi untuk menghindari cedera lanjutan. Ada yang memitigasi cedera. Dan ada juga yang memotivasi diri. Aku selalu takjub terhadap bagaimana tubuh dan pikiran kita bekerja. Kalau pakai bahasa Candace Pert, bodymind sebagai tubuhpikiran yang bersatu itu tak bisa dipisahkan. Kadang, apa yang terjadi pada tubuh kita adalah bagaimana tubuh menyampaikan pesan atau sinyal sesuatu yang menyakitkan atau menyenangkan. Pun sebaliknya. Pikiran riuh bisa jadi juga atas kondisi tubuh yang kurang diperhatikan.

Danau Batur (Mei, 2026)

Dan selama aku berlari di BTR, ada pelajaran baru yang aku dapatkan. Aku sadar bahwa saat kerja, langkah kakiku sangat cepat seperti mengenakan sepatu roda (aku baru sadar dari beberapa rekan kerjaku yang  bilang aku berjalan terlalu cepat) karena harus bergerak dari satu gedung rapat ke gedung rapat lainnya. Pikiranku juga dikondisikan untuk siap ber-multitasking seperti dua atau tiga rapat daring dalam satu waktu atau mengerjakan beberapa tenggat kerja salam satu waktu. Ternyata kemampuan multitasking bukan sesuatu yang layak dibanggakan karena memiliki switching cost alias bisa bikin kita lebih stres, atensi dangkal, dan mengganggu kontrol kognitif. Multitasking ini harus aku bongkar ajar (unlearn) bukan sebagai kemampuan hebat. Beberapa jurnal ilmiah justru menyarankan fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu pendek, kemudian berganti lagi. Bisa jadi multitasking ini adalah salah satu mode bertahan hidupku. Dan mungkin juga dipengaruhi kebiasaan masa kecil yang suka pindah-pindah saluran TV saat tontonan kartun beralih ke iklan.

Konser Banda Neira di TIM (April, 2026) 

Mundur terus ke bulan April. Tanggal sepuluh April tahun 2026 adalah hari lahirku yang ke-37. Aku mengambil cuti ulang tahun dan menghadiahi diri sendiri tiket konser Tumbuh Menjadi-nya Banda Neira di Taman Ismail Marzuki. Pertama kali mendengar Banda Neira itu tahun 2014. Dan selama lebih dari 10 tahun itu pula Banda Neira menemani pergantian umurku juga. Banyak kerutan, uban, dan daftar pencapaian yang makin lama makin tak aku pedulikan lagi menjadi penerimaan diri di usia yang ke-37.  Di konsernya, Banda Neira membawakan beberapa lagu kesayanganku yang selalu membuatku menangis lega dan bahagia: Langit dan Laut, Tak Apa Akui Lelah, dan Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Buatku konser Banda Neira selalu terasa personal. Ada lagu-lagu yang menemani aku memproses segala kesedihan. Bukan dibuang ataupun dibiarkan begitu saja, tetapi kesedihan yang diurai pelan-pelan sampai kesedihan yang sudah terjadi itu tidak lagi berasa pahit dan menyakitkan.

Selesai konser, ada perasaan lega yang membuatku kelaparan. Aku memesan ojol menuju warung makan terdekat. Di jalan aku mataku tertuju pada langit Jakarta yang hitam dan tidak berbintang dengan bunyi klakson yang masih hidup.

Di Konser Banda Neira (April, 2026)

Aku yang kala itu memandangi langit Jakarta beresonansi dengan aku yang memandangi langit Sydney 10 tahun lalu, dengan Aku yang memandangi langit Leewuraden 13 tahun lalu, dengan Aku yang memandangi langit Jatinangor 19 tahun lalu, dengan aku yang memandangi langit Bandung 25 tahun lalu. Aku merasa mengulang tahun dan bertambah tua menjadi momen kontemplatif, sakral, dan intim untuk merayakan menjadi manusia yang tidak sempurna dan fana. Aku mengerti bahwa ada obsesi untuk terlihat muda dan menjalani hidup dengan umur panjang, tapi aku lebih sepaham dengan yang membuat hidup ini bermakna adalah menjadi fana dan sementara. Berharap agar semua tetap sama dan bisa hidup bahagia selamanya adalah sebuah delusi kenikmatan.

Dasamuka (April, 2026)

Selama 37 tahun aku berhasil bertahan hidup, tidak semuanya aku lewati dengan suka cita saja, melainkan juga duka nestapa, kegagalan dan perpisahan, termasuk luka dan trauma yang kadang bersemayam dalam pikiran dan mencoba berdialog denganku. Dan aku berhasil melewati 37 tahun ini. Mungkin kamu juga sama. Setiap kamu merayakan hari lahirmu, tak perlu besar dan mewah, aku harap kamu ingat bahwa kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini. Aku harap kamu berbahagia seperti aku yang bahagia bisa berada di sini dan kini, menjalani hidup yang ini, walau tidak sempurna dan berantakan.

Aku berterima kasih kepada leluhurku yang berjuang agar aku merdeka dan bisa memilih jalan hidup ini. Juga kepada orang tuaku yang menerima takdirnya untuk membesarkan aku semampu mereka dan kepada saudaraku yang tumbuh bersama melalui tangis dan tawa. Aku berterima kasih juga kepada orang-orang yang pernah bersilangan jalan di hidupku agar aku belajar untuk memahami segala lebih baik lagi. Yang pernah mencintaiku dan juga aku cintai. Yang tetap mencintaiku dan aku cintai. Aku juga meminta maaf kepada orang-orang yang pernah aku sakiti baik sengaja maupun tidak sengaja dan memaafkan orang-orang yang pernah menyakitiku.

Dan sebagaimana layaknya hidup, semua ada waktunya. Semua ada fasenya. Semua sementara. Saat bahagia, reguk semampunya. Saat berduka, ingat bahwa duka pun akan berlalu juga. Semoga dengan bertambah pengalaman di dunia, kita bisa tetap memilih untuk merasakan segala yang ada di hidup dengan lebih bijak ini tanpa tenggelam dalam emosi yang menihilkan kita.

Merasakan hal-hal kecil dan merayakannya merupakan penolakan mati rasa. Hidup hanya satu kali, mari gunakan dan rayakan sebaik-baiknya. Patah hati, jatuh cinta lagi. Gagal, bangkit lagi. Sedih, berbahagia lagi. Walau tak semudah yang diucapkan, setidaknya itu semua masih bisa dilakukan.

Dan semoga semakin banyak hal-hal yang bisa kita syukuri, sekecil apa pun itu.

Konser Banda Neira di TIM (April, 2026)


Comments